Dari Qari ke Quranic Influencer

4 hours ago 7

Oleh: Ahmad Tholabi Kharlie, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Aktivis Pembinaan Al-Qur’an di Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Nasional di Semarang, membuka panggung besar bagi tradisi qurani Indonesia. Berlangsung pada 11-20 September 2026, MTQ kali ini diikuti kafilah dari seluruh Indonesia. Kementerian Agama mencatat 38 provinsi mengirimkan kafilah lengkap dengan jumlah peserta lomba sebanyak 2.242 orang.

Angka tersebut menggambarkan besarnya ekosistem yang bergerak bersama MTQ. Di dalamnya terdapat peserta musabaqah, dewan hakim, pembina, pendamping, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, pesantren, komunitas, serta masyarakat luas.

MTQN XXXI 2026 juga mengusung tema “Menebar Cahaya Al-Qur’an dalam Harmoni Menuju Indonesia Emas yang Berkeadaban”. Penyelenggaraan berlangsung dalam format yang semakin luas dengan 12 cabang musabaqah dan pelbagai kegiatan pendukung.

Pemandangan tersebut menunjukkan bahwa MTQ telah berkembang menjadi salah satu ruang penting bagi perjumpaan agama, pendidikan, kebudayaan, dan kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Panggung MTQ semakin besar. Pada saat yang sama, panggung sosial tempat masyarakat menemukan figur dan pengetahuan juga mengalami perubahan mendasar.

Panggung Baru

Dahulu, perjalanan seorang qari sangat dekat dengan ruang fisik. Nama seorang qari tumbuh melalui pesantren, madrasah, masjid, majelis taklim, arena MTQ, radio, televisi, serta pelbagai forum keagamaan. Pertemuan antara qari dan masyarakat berlangsung melalui panggung yang memiliki batas ruang dan waktu.

Sekarang, panggung tersebut bertambah luas. Lantunan tilawah dapat direkam, disimpan, dicari, diputar ulang, dibagikan, dan ditemukan kembali oleh publik yang berada jauh dari tempat penyelenggaraan MTQ.

Indonesia mempunyai basis masyarakat digital yang sangat besar. DataReportal memperkirakan sekitar 230 juta orang di Indonesia menggunakan internet pada akhir 2025. Sekira 180 juta identitas pengguna media sosial juga tercatat pada periode yang sama. Kondisi tersebut menjadikan ruang digital sebagai bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat, termasuk dalam cara generasi muda memperoleh informasi, membangun relasi, menemukan figur, dan membentuk preferensi.

Prestasi seorang qari tidak harus berhenti pada pengumuman juara dan penyerahan penghargaan. Prestasi tersebut dapat menjadi modal sosial untuk membangun pengaruh yang lebih luas melalui pendidikan, komunitas, dan ruang digital.

Konsep networked publics dari Danah Boyd membantu membaca perubahan tersebut. Dalam tulisannya yang diterbitkan dalam Youth, Identity, and Digital Media (2008), Boyd menjelaskan ruang publik digital sebagai ruang yang terbentuk melalui teknologi jaringan. Ruang tersebut memiliki karakter persistence, searchability, replicability, dan invisible audiences: informasi dapat bertahan, dicari, direplikasi, serta menjangkau audiens yang sering kali tidak terlihat.

Konsep tersebut relevan bagi perjalanan seorang qari. Tilawah yang sebelumnya hanya dinikmati oleh jamaah di sebuah arena dapat menjadi arsip yang terus hidup. Seorang qari dari Aceh dapat didengar oleh santri di Jawa. Qari dari Sulawesi dapat menjadi rujukan bagi pelajar di Sumatera. Rekaman MTQ yang berlangsung bertahun-tahun sebelumnya dapat ditemukan kembali oleh generasi yang lahir jauh setelah perlombaan tersebut. Teknologi memperpanjang umur sebuah penampilan.

Lebih dari itu, teknologi memperluas kemungkinan terbentuknya otoritas qurani. Seorang qari yang memiliki kemampuan tilawah, pengalaman pembinaan, disiplin belajar, dan reputasi kompetitif memiliki modal yang kuat untuk hadir sebagai figur publik qurani. Dalam konteks inilah istilah quranic influencer dapat digunakan.

Istilah tersebut tidak perlu dipahami sebagai selebritas digital. Quranic influencer lebih tepat dipahami sebagai figur yang membangun pengaruh melalui kompetensi Al-Qur’an, pengetahuan, komunikasi, dan keteladanan. Popularitas menjadi salah satu kemungkinan dampak, sementara misi utamanya tetap berada pada perluasan literasi dan kecintaan terhadap Al-Qur’an.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Food |