Mahasiswa Amikom Yogyakarta Meninggal Dunia, Pihak Kampus Buka Suara

8 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Seorang mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta, Rheza Sendy Pratama, dikabarkan meninggal dunia setelah diduga menjadi korban dalam bentrokan antara demonstran dan aparat, Ahad (31/8/2025), pagi. Kabar ini sebelumnya diunggah oleh akun Instagram Forum BEM se-DIY yang menyampaikan belasungkawa sekaligus menyoroti dugaan kekerasan aparat yang menyebabkan gugurnya Rheza.

Dalam pernyataan tersebut, Forum BEM DIY menyampaikan simpati mendalam kepada keluarga almarhum.  Pernyataan itu juga disertai dengan kronologi versi mahasiswa mengenai kejadian tragis yang menimpa Rheza. Ia disebut hadir dalam aksi demonstrasi sebagai bagian dari gerakan mahasiswa.

"Kronologi singkat, pada saat aksi demonstrasi besar-besaran yang tengah bergema di berbagai daerah Indonesia, Rheza turut hadir sebagai bagian dari barisan perjuangan mahasiswa. Di tengah situasi kacau, motor yang ditungganginya mati ketika hendak berbalik arah. Tiba-tiba aparat menembakkan gas air mata, membuat Rheza terjatuh. Rekannya yang dibonceng berhasil lari menyelamatkan diri, namun Rheza yang tergeletak justru dihampiri oleh polisi-polisi hingga nyawanya tak lagi tertolong," tulis keterangan dalam unggahan belasungkawa yang diunggah oleh akun Instagram @forumbemsediy, dilihat Republika, Ahad.

Forum BEM se-DIY menyebut kematian Rheza bukan sekadar insiden biasa, melainkan peringatan atas tindakan represif yang merenggut nyawa mahasiswa di ruang publik. "Kematian ini bukan hanya duka bagi keluarga, tapi juga cambuk bagi kita semua. Seorang mahasiswa, seorang anak bangsa, tumbang bukan karena penyakit atau musibah biasa, melainkan dalam ruang perjuangan yang seharusnya dijaga kehormatannya," lanjut keterangan tersebut.

Kampus Buka Suara

Kabar duka cita ini pun kemudian dibenarkan oleh pihak kampus. Saat dijumpai di rumah duka di kawasan Sendangadi, Mlati, Sleman, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Amikom Yogyakarta, Achmad Fauzi, membenarkan bahwa Rheza merupakan mahasiswa aktif kampus tersebut.

Namun, ia menyampaikan bahwa pihak kampus belum mengetahui secara rinci penyebab kematian mahasiswa kelahiran 2004 tersebut termasuk apakah terlibat dalam aksi demonstran atau tidak.

"Kalau secara kronologis memang itu (saat kejadian) tidak dalam pantauan kami, sehingga kami secara pasti tidak tahu persis kejadiannya, sehingga kami tidak bisa memberikan keterangan yang terkait peristiwa yang terjadi seperti apa, karena belum investigasi," katanya, Ahad.

Kampus juga belum sempat melakukan komunikasi langsung dengan pihak kepolisian terkait insiden tersebut. Fokus utama saat ini adalah memberikan dukungan kepada keluarga almarhum.

"Kami fokus untuk terkait dengan almarhum dulu, di rumah sakit sampai siang," ucapnya.

Meski begitu, Fauzi berharap agar aparat kepolisian bisa segera memberikan penjelasan dan membuka komunikasi dengan pihak kampus untuk mengungkap secara utuh kejadian yang merenggut nyawa salah satu mahasiswa mereka tersebut.

"Harapannya pihak kepolisian bisa memberikan informasi yang lengkap kepada kami tentang peristiwa yang terjadi seperti apa. Bagaimanapun juga ini mahasiswa kami, meskipun sudah di luar pantauan dan kendali kami, tetap ini mahasiswa, sehingga harus dilakukan investigasi. Harapannya pihak kepolisian juga bisa berkoordinasi dengan kami dan menyampaikan informasi apa yang sebenarnya terjadi," ujar dia.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua BEM Amikom, Alvito Afriansyah, menyatakan pihaknya saat ini tengah mengumpulkan informasi lebih lanjut untuk mengungkap kronologi pasti peristiwa yang menyebabkan kematian mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi tersebut.

Meski mengaku sempat memperoleh informasi bahwa Rheza berada di sekitar lokasi aksi sejak Sabtu hingga Ahad (31/8), pagi, Alvito  mengatakan pihaknya akan melakukan investigasi demi mendapatkan kronologi detail peristiwa terjadi, apalagi pada saat bersamaan, sebuah video beredar juga merekam diduga sosok Rheza mengendarai sepeda motor ikut aksi di sekitaran Mapolda DIY beredar di media sosial.

Alvito menduga bahwa itu merupakan Rheza lantaran dilihat dari jenis motor yang dipakai sekaligus adanya keterangan dari rekan sekelasnya di kampus.

"Ya perihal itu kami sampaikan di sini bahwa betul itu adalah korban yang kita sama-sama lihat di video bawa korban tertinggal pada saat aparat melemparkan gas air mata dan mungkin insiden itu terjadi saat itu. (Petunjuk) dari motor dan juga itu kami dapatkan dari informasi teman sekelas bahwa itu betul saudara Rezha," kata Alvito.

Meski demikian, BEM Amikom belum mengambil kesimpulan akhir dan masih berencana melakukan investigasi internal untuk mengetahui secara detail peristiwa yang terjadi pada malam tragis tersebut.

"Harapannya kami juga bisa mendapatkan informasi yang lebih luas perihal itu agar nanti kami dapat tentunya mengkorelasikan dan dengan informasi serta kejadian yang dialami Rheza hari ini," ucapnya menambahkan.

Diketahui bahwa Rheza sempat dilarikan ke RSUP Dr Sardjito sebelum akhirnya dinyatakan meninggal. Jenazahnya kemudian dipulangkan ke rumah duka di Jaten, Sendangadi, Kapanewon Mlati dan langsung dimakamkan pada Ahad sore, sekitar pukul 16.00 WIB.

Dari pantauan Republika di lokasi, suasana duka menyelimuti rumah duka di kawasan Sendangadi, Mlati, Sleman. Ribuan pelayat, termasuk rekan-rekan sesama mahasiswa, mengantarkan jenazah Rheza ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Sementara itu, sebuah video memang beredar di grup percakapan WhatsApp yang memperlihatkan bentrokan antara demonstran dan aparat. Terlihat ada dua pengendara motor trail yang mendekati petugas sebelum akhirnya berbalik arah, diikuti oleh aksi pengejaran oleh aparat.

Belum ada konfirmasi apakah video tersebut terkait langsung dengan insiden yang menimpa Rheza atau bukan. Pihak kepolisian pun belum memberikan keterangan hingga berita ini dibuat.

Read Entire Article
Food |