Menyusuri Indonesia dengan Vespa Tua, Muchit Petouring Nusantara

7 hours ago 6

Image Dhesy Choirunnisa

Agama | 2026-07-04 15:03:51

Menjelajah Nusantara

Menyusuri Indonesia dengan Vespa Tua, Muchit Menjadikan Perjalanan sebagai Ruang Belajar

Bagi sebagian orang, touring identik dengan kecepatan, destinasi wisata, atau sekadar menuntaskan perjalanan ribuan kilometer. Namun tidak demikian bagi Chusnul Muchit. Pemuda asal Salatiga, Jawa Tengah, justru menjadikan touring sebagai cara untuk mengenal Indonesia lebih dekat, satu desa demi satu desa.

Berbekal Vespa PX rakitan 1979 yang usianya hampir menyamai perjalanan hidupnya, Muchit memulai sebuah misi yang ia beri nama Touring Nusantara. Bukan untuk mengejar rekor jarak tempuh, melainkan mencari pelajaran hidup dari masyarakat yang ia temui di sepanjang perjalanan.

"Indonesia terlalu luas jika hanya dikenal lewat buku atau media sosial," begitu prinsip yang selalu dipegang Muchit. Baginya, memahami negeri ini harus dilakukan dengan datang langsung, duduk bersama masyarakat, mendengar cerita mereka, dan merasakan kehidupan yang sesungguhnya.

Perjalanan yang dimulai dari Pulau Jawa kemudian membawanya menyeberang ke Kalimantan. Di sana, ia mengunjungi berbagai tempat yang menjadi simbol sejarah dan budaya, seperti Rumah Radakng di Pontianak hingga Keraton Kadariah. Namun tujuan utamanya bukan sekadar mengabadikan foto, melainkan memahami filosofi yang hidup di balik setiap tradisi masyarakat setempat.

Memasuki kawasan Indonesia Timur, perjalanan Muchit semakin penuh tantangan. Jalanan panjang, cuaca yang berubah-ubah, hingga keterbatasan bengkel untuk motor lawas menjadi bagian dari cerita yang harus dihadapi. Meski demikian, Vespa tua yang dikendarainya tetap melaju, seolah menjadi saksi bahwa usia kendaraan bukan penghalang untuk menjelajah Nusantara.

Di berbagai daerah, Muchit memilih tinggal bersama warga. Ia menikmati secangkir kopi di rumah sederhana, berbincang dengan nelayan yang baru kembali dari laut, membantu petani di ladang, hingga bermain bersama anak-anak di desa. Dari setiap pertemuan itulah ia belajar bahwa kekayaan Indonesia bukan hanya alamnya, tetapi juga keramahan masyarakatnya.

Menurut Muchit, setiap daerah memiliki cara hidup yang berbeda. Ada masyarakat yang masih memegang teguh adat istiadat leluhur, ada pula yang hidup berdampingan dengan berbagai suku dan agama tanpa kehilangan rasa persaudaraan. Semua itu menjadi pengalaman yang tidak dapat dibeli dengan apa pun.

Tak jarang, perjalanan juga diwarnai kendala teknis. Vespa tua membutuhkan perhatian lebih, terlebih ketika harus melewati jalan yang jauh dari permukiman. Namun setiap kali motor mengalami masalah, selalu ada tangan-tangan yang bersedia membantu. Mulai dari mekanik lokal, komunitas Vespa, hingga warga yang baru dikenalnya beberapa jam sebelumnya.

Bagi Muchit, momen-momen seperti itulah yang membuat perjalanan menjadi lebih bermakna. Ia percaya bahwa solidaritas masih hidup di berbagai penjuru Indonesia, bahkan di tempat-tempat yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.

Perjalanan ini juga menjadi pengingat bahwa touring bukan sekadar tentang kendaraan. Motor hanyalah alat untuk membawa seseorang menuju pengalaman baru. Yang paling berharga justru adalah cerita, persahabatan, dan pelajaran hidup yang diperoleh di setiap persinggahan.

Kini, ribuan kilometer telah dilalui. Namun bagi Muchit, perjalanan belum benar-benar selesai. Indonesia masih menyimpan banyak sudut yang belum disapa, banyak budaya yang belum dipelajari, dan banyak orang baik yang belum ditemui.

Melalui Vespa PX tuanya, Muchit ingin menunjukkan bahwa menjelajah Nusantara bukan hanya soal mencapai tujuan akhir. Perjalanan sejati adalah ketika seseorang pulang dengan wawasan yang lebih luas, hati yang lebih rendah, serta rasa cinta yang semakin besar terhadap Indonesia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Food |