REPUBLIKA.CO.ID, KOTAWARINGIN TIMUR -- Sudah sekitar dua bulan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sebagian wilayah Indonesia, salah satunya Kalimantan Tengah. Namun, di tengah kepungan bencana ekologis yang melanda tanah Borneo tersebut, masih ada wilayah yang konsisten terbebas dari api.
Wilayah itu adalah Desa Simpur di Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Selama bertahun-tahun, sekitar 566 warga yang tinggal di desa seluas sekitar 3.600 hektare bahu-membahu menjaga wilayah mereka tetap bebas dari api karhutla.
Kepala Desa Simpur Khairil Anwar mengatakan, upaya pencegahan dilakukan secara konsisten dengan melibatkan masyarakat. Menurut dia, pemerintah desa rutin memberikan sosialisasi, terutama ketika memasuki masa pembukaan lahan. Bahkan, ia kerap turun langsung menemui warga di lahan untuk mengingatkan pentingnya mencegah kebakaran.
"Kalau untuk program masyarakat bebas api itu biasanya di setiap tahun kita sosialisasi kepada seluruh lapisan masyarakat, kemudian dan ketika pada masa pembukaan lahan, kita datang langsung ke lahan, datang pendekatan persuasif, komunikasi, mengajak mereka dengan sebaik-baik mungkin agar bisa menjaga lahan tersebut agar tidak terbakar," kata Khairil, Jumat (11/9/2026).
Menurut Khairil, pendekatan secara langsung itu penting dilakukan untuk membangun kesamaan persepsi antara pemerintah desa dan masyarakat. Warga diajak memahami dampak kebakaran yang tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga merugikan masyarakat.
Ia mengeklaim, sejak menjabat sebagai kepala desa pada 2018, tidak ada kebakaran yang disebabkan oleh masyarakat Desa Simpur. Upaya pencegahan juga diperkuat dengan penyediaan lima pompa air atau alkon yang siap digunakan apabila sewaktu-waktu terjadi kebakaran.
Selain itu, pemerintah desa bersama masyarakat menjalankan patroli secara bergiliran selama musim kemarau. Patroli tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan tidak ada potensi api yang luput dari pemantauan.
Ketua Tim Patroli Desa Simpur Syahril Fitriansyah mengatakan, sistem patroli secara bergiliran mulai diterapkan sejak 2023. Pasalnya, pada tahun tersebut karhutla yang berasal dari luar desa pernah melanda wilayah itu. Sejak saat itu, anggota patroli melakukan pemantauan sejak pagi hingga malam dengan sistem pergantian, khususnya saat musim kemarau.

3 hours ago
6
















































