Upacara Berkabung Nasional untuk Ali Khamenei Resmi Dimulai di Teheran

10 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Upacara berkabung nasional telah dimulai di ibu kota Iran, Teheran, untuk mantan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, beberapa bulan setelah ia tewas dalam serangan udara Israel pada hari pertama perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran pada 28 Februari 2026. Kerumunan orang berdatangan ke lokasi sejak Subuh.

Rekaman televisi pemerintah menunjukkan peti jenazah pemimpin agama itu disemayamkan di Masjid Agung Mosalla pada Sabtu (4/6/2026), dengan sejumlah besar pendukung tiba di lokasi. Dikutip dari Anews, upacara dijadwalkan berlangsung selama tiga hari di Teheran, sebelum jenazah Khamenei dibawa ke kota ziarah Qom dan ke Irak.

Mantan pemimpin tertinggi itu kemudian akan dimakamkan di kota kelahirannya, Mashhad pada Kamis depan. Khamenei meninggal pada usia 86 tahun dalam serangan udara yang ditargetkan ke kediaman resminya di Teheran pada 28 Februari 2026.

Kematiannya diikuti oleh lebih dari lima pekan pertempuran antara Iran, Israel, dan AS, yang melibatkan kelompok-kelompok yang didukung Iran termasuk Hizbullah Lebanon. Saat ini, perwakilan AS dan Iran menyetujui gencatan senjata pada awal April 2026.

Sebagai pemimpin tertinggi, Khamenei adalah otoritas politik dan agama tertinggi Iran, dengan keputusan akhir atas semua masalah strategis. Dia memerintah Republik Islam dengan tegak hingga kematiannya.

Para pengamat bakal mengikuti penampilan putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, dalam upacara tersebut. Mojtaba diangkat sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru sepekan setelah kematian ayahnya. Mojtaba terluka parah dalam serangan yang menewaskan ayahnya dan belum muncul di depan umum sejak pengangkatannya, sehingga memicu spekulasi tentang kesehatannya.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf, dan Menteri Luar Negeri (Menlu) Abbas Araghchi mengadakan pertemuan terpisah dengan para pemimpin dan delegasi asing di Teheran pada Jumat (3/6/2026). Hal itu terjadi di sela upacara pemakaman Khamenei yang tewas, menurut pernyataan terpisah dari kepresidenan Iran, Kementerian Luar Negeri, dan kantor ketua parlemen.

Pezeshkian bertemu dengan Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev, yang mengunjungi Teheran sebagai utusan khusus Presiden Vladimir Putin. Presiden Iran  berterima kasih kepada Moskow atas belasungkawa dan dukungannya, menurut Kantor Kepresidenan Iran.

Selama pertemuan tersebut, Pezeshkian menyerukan percepatan implementasi perjanjian Iran-Rusia dan perluasan kerja sama di bidang ekonomi, perdagangan, energi, dan transit. Khususnya melalui Koridor Transportasi Internasional Utara-Selatan.

Medvedev menyampaikan belasungkawa Putin dan mengutuk serangan AS-Israel baru-baru ini terhadap Iran, menggambarkannya sebagai pelanggaran hukum internasional dan Piagam PBB. Dia menegaskan, Moskow tetap berkomitmen untuk melaksanakan perjanjian kemitraan strategis komprehensif dengan Teheran.

Pezeshkian juga mengadakan pertemuan terpisah dengan delegasi dari China, Namibia, dan Afghanistan, berterima kasih kepada mereka karena telah mengutuk serangan terhadap Iran. Dia menekankan kesiapan Teheran untuk memperluas kerja sama di bidang politik, ekonomi, perdagangan, budaya, sains, dan teknologi dengan sejumlah negara tersebut.

Dalam pertemuan dengan pemimpin nasional Turkmenistan, Gurbanguly Berdimuhamedow, Pezeshkian memuji dukungan Ashgabat dan menyerukan percepatan pelaksanaan perjanjian di bidang energi, transportasi, transit, perdagangan, dan investasi. Berdimuhamedow mengatakan, Turkmenistan akan terus mendukung Iran dan kerja sama regional.

Presiden Iran juga bertemu dengan Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan, dengan kedua pihak menekankan hubungan historis dan perlunya melindungi hubungan bilateral dari campur tangan pihak luar. Pashinyan mengatakan, Armenia tidak akan berpartisipasi dalam proyek atau tindakan apa pun yang menargetkan kepentingan atau keamanan Iran.

Dalam pembicaraan dengan Presiden Irak Nizar Amidi, Pezeshkian menyebutnya, sebagai negara "bersaudara" dan mendesak negara-negara Islam untuk memperkuat persatuan melawan ketidakstabilan regional. Amidi mengatakan, Irak mengutuk serangan terhadap Iran dan menganggap duka cita rakyat Iran sebagai duka cita mereka sendiri.

Read Entire Article
Food |