
Oleh: Yuri Thamrin; duta besar RI untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa (2016-2020)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selama lebih dari setengah abad, pengaruh budaya Amerika tampak begitu dominan sehingga banyak orang menganggapnya sebagai sesuatu yang alamiah. Hollywood, Disney, MTV, Coca-Cola, NBA, hingga Silicon Valley membentuk imajinasi miliaran orang di seluruh dunia.
Dominasi tersebut kemudian melahirkan keyakinan bahwa globalisasi pada akhirnya akan menghasilkan global culture, yaitu budaya global yang semakin seragam dan melampaui batas-batas nasional. Semakin terbukanya perdagangan, investasi, teknologi, dan arus informasi diyakini akan mendorong konvergensi budaya, di mana masyarakat di berbagai belahan dunia akan mengonsumsi produk budaya yang sama dan secara bertahap mengadopsi nilai serta gaya hidup yang serupa. Dalam pandangan ini, dunia masa depan diperkirakan akan semakin menyerupai Amerika.
Namun perkembangan beberapa tahun terakhir menunjukkan arah yang berbeda. K-pop dari Korea Selatan, anime Jepang, serial Turki, Bollywood India, musik Amerika Latin, hingga industri game China semakin menunjukkan bahwa globalisasi tidak selalu menghasilkan budaya yang semakin seragam. Dunia memang semakin terhubung, tetapi preferensi budaya justru semakin beragam.
Paradoks inilah yang diangkat majalah The Economist (13 Juni 2026) dalam artikelnya yang berjudul A World Cup Paradox. Di tengah Piala Dunia yang ditonton miliaran orang, majalah tersebut mengajukan sebuah pertanyaan menarik: mengapa di era konektivitas global yang belum pernah terjadi sebelumnya, masyarakat justru semakin menikmati konten yang dekat dengan identitas lokal mereka? Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi implikasinya sangat besar bagi cara kita memahami globalisasi dan pengaruh budaya di abad ke-21.
Untuk memahami fenomena tersebut, kita perlu kembali kepada konsep soft power yang diperkenalkan ilmuwan politik Amerika Joseph Nye. Berbeda dengan hard power yang mengandalkan kekuatan militer atau tekanan ekonomi, soft power adalah kemampuan memengaruhi pihak lain melalui daya tarik. Orang mengikuti, mengagumi, atau bahkan meniru suatu negara bukan karena dipaksa, tetapi karena mereka tertarik pada nilai, budaya, institusi, dan cara hidup yang ditawarkan negara tersebut.
Selama beberapa dekade, Amerika Serikat merupakan contoh paling berhasil dari penggunaan soft power. Film Hollywood, musik pop, universitas ternama, perusahaan teknologi, hingga gagasan tentang kebebasan dan mobilitas sosial menjadikan Amerika bukan sekadar negara kuat, tetapi juga negara yang banyak dikagumi. Bagi jutaan orang di berbagai belahan dunia, Amerika bukan hanya sebuah negara, melainkan sebuah aspirasi.
Dominasi tersebut semakin kuat setelah berakhirnya Perang Dingin. Pada saat itu, banyak pengamat percaya bahwa globalisasi akan memperluas pengaruh budaya Amerika ke seluruh dunia. Dalam bahasa sederhana, semakin global dunia, semakin “Amerika” pula dunia tersebut.
Namun sejarah ternyata mengambil arah yang berbeda. Internet dan teknologi digital memang menghapus banyak hambatan distribusi. Akan tetapi, alih-alih memperkuat satu budaya global yang dominan, teknologi justru membuka ruang bagi munculnya beragam budaya lokal yang mampu menjangkau audiens internasional.
Netflix memungkinkan serial Korea ditonton di Amerika Latin. Spotify memperkenalkan musik Latin ke Eropa. YouTube membuka jalan bagi kreator dari berbagai negara untuk menjangkau audiens global. TikTok bahkan membuat lagu berbahasa lokal dapat menjadi fenomena internasional dalam hitungan hari. Fenomena ini menunjukkan bahwa globalisasi tidak mengakhiri identitas budaya. Sebaliknya, teknologi global justru memberi panggung baru bagi kebangkitan budaya lokal.
Inilah yang disebut The Economist sebagai World Cup Paradox. Dunia semakin terhubung, tetapi budaya tidak semakin seragam. Sebaliknya, masyarakat justru semakin leluasa memilih konten yang paling dekat dengan bahasa, pengalaman, dan identitas mereka sendiri. Globalisasi ternyata tidak menghapus perbedaan budaya, melainkan menyediakan sarana baru untuk mengekspresikannya. Bahkan di Brasil, sekitar 96 dari 100 artis yang paling banyak didengarkan adalah artis lokal. Di YouTube, sebagian besar video yang menjadi tren juga hanya populer di satu negara. Fakta-fakta seperti ini menunjukkan bahwa teknologi global tidak selalu menghasilkan selera global yang seragam.
Apakah ini berarti soft power Amerika telah berakhir? Belum tentu. Amerika masih memiliki aset soft power yang luar biasa, mulai dari Hollywood dan Silicon Valley hingga universitas-universitas terbaik dunia yang tetap menjadi magnet bagi talenta internasional. Bagi banyak keluarga di Indonesia, diterima di Harvard, Berkeley, Princeton, MIT, Stanford, atau kampus-kampus elite Amerika lainnya masih dipandang sebagai pencapaian yang membanggakan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa daya tarik Amerika tetap kuat, bukan hanya dalam bidang hiburan dan teknologi, tetapi juga dalam pendidikan, riset, dan inovasi. Bahasa Inggris pun masih menjadi bahasa global yang dominan dalam bisnis, ilmu pengetahuan, teknologi, dan diplomasi internasional.
Yang mungkin sedang berakhir bukanlah soft power Amerika, melainkan hegemoninya atas ruang budaya global. Jika pada akhir abad ke-20 Amerika hampir tidak memiliki pesaing serius dalam membentuk imajinasi budaya dunia, kini situasinya jauh lebih kompetitif. Korea Selatan, Jepang, India, Turki, China, dan berbagai negara lainnya mulai memiliki pengaruh budaya yang melampaui batas-batas geografis mereka. Dunia tampaknya sedang bergerak dari sistem soft power yang relatif terpusat menuju sistem yang lebih multipolar.
Perubahan ini membawa kabar baik bagi Indonesia. Jika dulu panggung budaya dunia didominasi segelintir negara besar, kini pintunya jauh lebih terbuka. Korea Selatan menunjukkan bahwa pengaruh budaya tidak selalu mengikuti ukuran wilayah atau kekuatan militer. Yang dibutuhkan adalah kreativitas, konsistensi, dan kemampuan bercerita.
Indonesia memiliki modal yang tidak kecil. Selain kekayaan budaya yang selama ini dikenal dunia melalui Bali dan batik, Indonesia juga mulai memperoleh pengakuan melalui kuliner, industri film, dan perkembangan fashion Muslim. Di luar itu, Indonesia memiliki aset yang tidak kalah penting, yaitu reputasinya sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Kombinasi tersebut memberikan Indonesia kisah kebangsaan yang unik dan relevan di tengah dunia yang semakin terpolarisasi.
Dengan kata lain, Indonesia tidak memulai dari nol. Kita memiliki budaya yang kaya, masyarakat yang kreatif, industri film dan musik yang terus berkembang, serta tradisi diplomasi yang selama puluhan tahun dikenal mampu membangun jembatan di tengah berbagai perbedaan. Semua itu merupakan sumber daya soft power yang berpotensi memperkuat pengaruh Indonesia apabila dikelola secara konsisten.
Tantangannya bukan kekurangan bahan baku. Tantangannya adalah bagaimana mengolah kekayaan tersebut menjadi karya yang dikenal, dihargai, dan disukai dunia. Soft power tidak dibangun hanya melalui slogan atau kampanye pemerintah. Ia tumbuh melalui karya, kreativitas, dan pengalaman yang mampu menyentuh imajinasi masyarakat internasional.
Pada akhirnya, mungkin pelajaran terbesar dari perubahan ini bukanlah bahwa pengaruh budaya Amerika sedang berkurang. Pelajaran yang lebih penting adalah bahwa peluang untuk membangun pengaruh kini tidak lagi dimonopoli oleh negara-negara besar. Dunia sedang mencari cerita-cerita baru, suara-suara baru, dan wajah-wajah baru.
Dalam dunia yang semakin multipolar, peluang untuk membangun pengaruh tidak lagi dimonopoli oleh negara-negara besar. Pertanyaannya sederhana: apakah Indonesia siap memanfaatkan kesempatan itu?
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
3































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509321/original/086615600_1771679962-SnapInsta.to_630114161_18162147202417018_2870114530835891224_n__1_.jpg)
















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522741/original/006886600_1772775055-8591.jpg)