Ribuan massa melakukan aksi demonstrasi di Gedung DPRD Provinsi Jabar, Jalan Diponegoro, Kota Bandung (Ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG--Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) kompak bakal menyelenggarakan pembelajaran mahasiswa secara daring sejak tanggal 1 hingga 4 September mendatang. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi terjadi aksi demonstrasi.
Surat edaran UPI nomor 59 tahun 2025 tentang kebijakan penyesuaian pembelajaran di lingkungan UPI yang beredar menjelaskan bahwa dengan kondisi yang berkembang tentang keamanan dan kenyamanan di lingkungan UPI, maka kegiatan pembelajaran tanggal 1 sampai 4 September secara daring.
Selain itu, mahasiswa, dosen dan tenaga kependidikan diharapkan tidak berada atau mendekati area demonstrasi demi menghindari risiko keselamatan. Kebijakan tersebut akan terus dievaluasi dan disesuaikan dengan perkembangan yang ada.
"Betul akan diadakan perkuliahan daring mengingat kondisi saat ini," ujar Kepala Humas UPI Vidi Sukmayadi saat dikonfirmasi, Ahad (31/8/2025).
Sementara itu, dalam surat edaran ITB yang beredar disebutkan bahwa pembelajaran daring dilaksanakan tanggal 1 September hingga 5 September. Kebijakan tersebut dilakukan terkait situasi kondisi keamanan dan kenyamanan dalam berkegiatan akademik.
Kebijakan tersebut berlaku untuk kampus ITB Jatinangor, Jakarta, Cirebon dan Ganesa Bandung. Namun, sejauh ini pihak humas ITB belum merespons terkait surat edaran tersebut kepada media.
Sebelumnya, aksi demonstrasi berlangsung sejam Jumat (29/8/2025) hingga Sabtu (30/8/2025) malam kemarin. Demonstrasi berujung ricuh dan terjadi pelemparan batu bom molotov hingga kebakaran sejumlah bangunan dan kendaraan.
Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan mengatakan massa aksi yang melakukan demonstrasi beberapa lalu terdapat yang langsung melakukan pelemparan batu dan melakukan pengerusakan. Terdapat fasilitas umum yang dirusak mereka termasuk perkantoran, pos polisi, kantor DPRD Jabar hingga mes. "Dalam dua hari ini ada satu roda empat yang terbakar hangus dan juga ada 10 kendaraan roda dua yang juga berada di sekitar lokasi unjuk rasa yang ikut terbakar," kata dia.
Menurut Hendra, pihaknya sendiri mengamankan 65 orang massa aksi yang diduga melakukan pengerusakan. Dari mereka terdapat anak yang masih berada di bawah umur berusia 13 tahun hingga 17 tahun. "Selanjutnya ada yang dewasa banyak sekali dari mereka tercatat ada yang SMA pelajar pengangguran dan juga mahasiswa," kata dia.
Selain itu terdapat 54 polisi yang mengalami luka luka saat bertugas mulai dari luka karena lemparan. Mereka sampai harus dijahit dan dibawa ke rumah sakit. "Kami mengimbau kepada masyarakat khususnya kepada elemen mahasiswa dan juga belajar SMA yang juga sederajat untuk bisa meredam aksinya tanpa adanya kekerasan," kata dia.