Dari Rasa Takut Gagal hingga Berdiri di Podium Juara, Perjalanan Panjang Atlet Shorinji Kempo

3 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, PONTIANAK - Tak semua mahasiswa hanya berkutat pada buku dan layar laptop. Ada yang memilih jalan berbeda lebih sunyi, lebih keras, namun penuh makna.

Itulah yang dijalani Susan Kamelia, mahasiswi Program Studi Sistem Informasi Akuntansi, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Pontianak. Di balik rutinitas kuliah dan tugas, ia menempuh perjalanan panjang sebagai atlet Shorinji Kempo, seni bela diri yang menuntut kesatuan jiwa dan raga.

Susan berasal dari Sekadau, kabupaten di wilayah daratan bagian tengah Kalimantan Barat. Dunia bela diri bukanlah takdir yang datang tiba-tiba, melainkan pilihan yang ia pelajari perlahan.

Shorinji Kempo merupakan seni bela diri asal Jepang menggabungkan teknik fisik dan pembentukan mental. Bagi Susan, filosofi tersebut bukan sekadar teori, melainkan pedoman hidup yang ia jalani setiap hari.

Ia mulai menekuni Shorinji Kempo sejak 2022, ketika masih duduk di bangku SMK. Perkenalan itu datang dari kakak kelas yang melihat potensinya.

Dari sana, Susan mulai mengenal kerasnya latihan fisik, mental, teknik, dan kelincahan. Proses yang tak pernah instan, tetapi perlahan membentuknya menjadi pribadi yang lebih kuat.

Menurutnya, latihan menjadi bagian penting dalam hidupnya. Dalam satu sesi, ia bisa menghabiskan waktu 3 hingga 4 jam. Jika tidak ada kejuaraan, latihan dilakukan dua kali seminggu.

Namun menjelang kompetisi, intensitas meningkat menjadi tiga kali seminggu, bahkan bisa setiap hari sebulan sebelum pertandingan. Bagian tersulit baginya adalah saat stamina benar-benar terkuras, tetapi tubuh tetap dipaksa bergerak, menendang, dan memukul dengan presisi.

Di balik semua itu, Susan juga harus berhadapan dengan pengorbanan. Waktu menjadi hal yang paling sering ia lepaskan. Tak jarang ia merasa iri melihat teman seusianya menikmati hidup lebih santai, sementara dirinya sibuk berlatih dan mempersiapkan pertandingan. Namun dukungan keluarga membuatnya tetap teguh melangkah, ditambah keyakinan pada dirinya sendiri untuk berani memulai, gagal, dan bangkit kembali.

Puncak perjalanan itu datang pada KEJURDA 2025. Setelah beberapa kali gagal meraih medali emas, akhirnya Susan berhasil berdiri di podium juara. Momen itu menjadi yang paling berkesan dalam kariernya sebagai atlet.

“Pada tahun 2025 itu pertama kali saya mendapatkan medali emas setelah beberapa kali gagal. Rasanya sedih, senang, pokoknya campur aduk,” ujarnya.

Baginya, kemenangan bukanlah garis akhir. Ia memandang juara sebagai bonus, sementara proses latihan dan perjuangan adalah makna sesungguhnya dari perjalanan seorang atlet.

“Kemenangan ini bukan akhir, melainkan awal perjalanan yang lebih panjang. Yang terpenting adalah proses yang didapat di setiap langkah,” katanya.

Di tengah kesibukan sebagai atlet, Susan tetap harus menjalani perannya sebagai mahasiswa. Pagi hari ia kuliah, siang mengerjakan tugas, sore berlatih, dan malam melanjutkan tugas jika belum selesai.

Disiplin waktu menjadi kunci agar semuanya berjalan seimbang. Jika suatu saat ia tak menjadi atlet, Susan membayangkan dirinya akan memilih jalan lain sebagai anggota TNI. Namun untuk saat ini, dojo tetap menjadi ruang perjuangannya.

Perjalanan Susan membuktikan bahwa keberanian menghadapi rasa takut gagal bisa membawa seseorang berdiri di podium juara. Sebab di balik setiap medali, selalu ada cerita tentang keringat, air mata, dan keyakinan yang tak pernah padam.

UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif terus berkomitmen mendukung mahasiswa berprestasi, termasuk para atlet yang berjuang mengharumkan nama kampus di berbagai ajang kejuaraan. Dukungan tersebut tidak hanya berupa fasilitas dan ruang pengembangan diri, tetapi juga kesempatan meraih beasiswa bagi mahasiswa yang mampu menyeimbangkan prestasi akademik dan nonakademik.

Melalui semangat ini, UBSI kampus Pontianak ingin menegaskan bahwa setiap perjuangan mahasiswa layak diapresiasi, karena dari kampus inilah lahir talenta tangguh yang siap berkontribusi bagi bangsa.

Read Entire Article
Food |