Gaza Cinema Academy Diluncurkan di Festival Film Venesia 2026

2 hours ago 5

Para anggota juri Venice 83 Xavier Giannoli, Shahrbanoo Sadat, Kaouther Ben Hania, Ketua Dewan Juri Maggie Gyllenhaal, Johnnie To, Daniel Blumberg, dan Francesco Casetti berpose dalam sesi pemotretan menjelang upacara pembukaan Festival Film Venesia di Venesia, Italia, pada 2 September 2026. Festival Film Venesia edisi ke-83 ini berlangsung mulai 2 hingga 12 September 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah sineas dan profesional film asal Palestina, Arab, dan internasional meluncurkan Gaza Cinema Academy di Festival Film Venesia 2026. Akademi ini dibentuk untuk menyediakan ruang berkelanjutan bagi pendidikan, pelatihan, dan produksi film di Gaza, sekaligus menghubungkan para sineas Palestina dengan komunitas film internasional.

Akademi ini mendapat dukungan dari sutradara Tunisia Kaouther Ben Hania, pemenang Silver Lion Venesia 2025 untuk film The Voice of Hind Rajab. Lalu sutradara Annemarie Jacir yang menyutradarai Palestine 36, sutradara Mai Masri pembuat film 3000 Nights, serta Ezzaldeen Shalah.

Sejumlah aktor juga mendukung pembentukan akademi tersebut, yakni Hiam Abbas, Ramy Youssef, dan Saleh Bakri. Dari kalangan industri film, turut bergabung produser Italia Graziella Bildesheim serta distributor dan promotor industri film Arab yang berbasis di Kairo, Alaa Karkouti.

Ke depannya, akademi akan berfokus pada pelatihan film, mendukung talenta muda dan perempuan, mengembangkan dan memproduksi film-film Palestina, serta memperkuat kehadiran sineas di Gaza. Akademi juga ingin membangun institusi film yang berkelanjutan di Jalur Gaza.

Untuk mendukung tujuan tersebut, akademi tengah berupaya membangun hubungan dengan festival film dan lembaga kebudayaan lainnya, serta lembaga pendanaan film dan perusahaan produksi. "Akademi ini bercita-cita membangun jaringan mitra internasional yang mendukung talenta film yang sedang berkembang di Gaza, memperkuat kesempatan untuk belajar dan berproduksi, serta membantu film-film mereka mencapai festival, platform, dan penonton di seluruh dunia," demikian pernyataan Akademi dilansir laman Variety, Selasa (8/9/2026).

Pendiri Gaza International Women's Film Festival sekaligus salah satu pendiri Gaza Cinema Academy, Ezzaldeen Shalah, mengatakan sinema memiliki arti yang lebih luas bagi masyarakat Gaza. Di Gaza, sinema bukan sekadar bentuk seni namun juga sebagai sarana untuk melestarikan ingatan.

"Sinema juga menjadi upaya merebut kembali hak kami untuk membentuk gambaran tentang diri kami sendiri, dan memberikan generasi baru perangkat untuk menceritakan kisah mereka sendiri," kata Shalah.

Read Entire Article
Food |