REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK – Momentum Lebaran identik dengan beragam sajian khas yang menggugah selera, mulai dari opor ayam, rendang, gulai, hingga sambal goreng ati.
Sebagian besar hidangan tersebut menggunakan santan sebagai bahan utama yang memberi cita rasa gurih dan lezat. Namun, masyarakat diimbau tetap bijak dalam mengonsumsi makanan bersantan agar kesehatan tetap terjaga selama Hari Raya.
Dokter spesialis anak, DR dr Farabi El Fouz, SpA., M.Kes, mengingatkan, makanan bersantan pada dasarnya tidak dilarang untuk dikonsumsi saat lebaran.
Namun, pola makan yang berlebihan justru dapat memicu gangguan kesehatan. Terutama, bagi orang yang memiliki riwayat kolesterol tinggi, hipertensi, obesitas, maupun gangguan metabolik.
Menurut Farabi, suasana Lebaran sering membuat masyarakat sulit mengontrol asupan makanan. Selain karena banyaknya pilihan menu, tradisi bersilaturahim dari satu rumah ke rumah lain juga mendorong seseorang untuk terus makan sepanjang hari. Karena itu, pengendalian porsi menjadi hal yang sangat penting.
“Yang perlu diperhatikan bukan hanya santannya, juga jumlah konsumsi dan frekuensinya. Jangan sampai karena momen Lebaran, kita makan berlebihan tanpa memperhatikan kondisi tubuh,” ujar Farabi, Jumat (20/3/26).
Ia menjelaskan, santan mengandung lemak jenuh yang jika dikonsumsi secara berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Meski demikian, masyarakat tidak perlu takut berlebihan. Kuncinya adalah keseimbangan, tetap menikmati hidangan khas Lebaran dengan porsi wajar serta disertai makanan lain yang lebih sehat seperti sayur, buah, dan air putih yang cukup.
Farabi juga menyarankan agar masyarakat tidak langsung tidur setelah makan makanan berat bersantan. Selain itu, aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki setelah bersilaturahim juga dapat membantu tubuh tetap bugar selama perayaan Idul Fitri.
Ia menambahkan, orang tua juga perlu memperhatikan pola makan anak saat Lebaran. Anak-anak umumnya tertarik mencoba berbagai makanan dan minuman manis sekaligus, sehingga pengawasan tetap diperlukan agar tidak terjadi gangguan pencernaan.
“Lebaran adalah momen bahagia, jangan sampai setelahnya justru tubuh drop karena pola makan yang tidak dijaga. Silakan menikmati hidangan khas hari raya, tetapi tetap harus bijak,” katanya.
Dengan menjaga pola makan, mengatur porsi, dan tetap aktif bergerak, masyarakat dapat menikmati kehangatan Lebaran tanpa mengabaikan kesehatan. Sebab, Hari Raya tak hanya tentang merayakan kebersamaan, tetapi juga menjaga tubuh tetap prima.

6 hours ago
6






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)

















