REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Kereta Api Indonesia (Persero) mulai menguji penggunaan biodiesel B50 pada operasional kereta api sebagai bagian dari upaya mempercepat transisi energi dan mendukung program energi baru terbarukan pemerintah.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan penggunaan B50 merupakan kelanjutan dari roadmap pemanfaatan biodiesel yang telah dijalankan perusahaan secara bertahap dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut dia, transformasi energi di sektor transportasi membutuhkan kesiapan operasional yang terukur agar tetap mampu menjaga keselamatan, keandalan layanan, serta efisiensi penggunaan energi.
"Transformasi energi Indonesia membutuhkan sektor transportasi yang mampu beradaptasi secara terukur. KAI memperkuat peran kereta api melalui roadmap biodiesel dari B0 menuju B50, dengan memastikan setiap tahapan berjalan selaras dengan keselamatan, keandalan layanan, efisiensi energi, dan penurunan emisi," kata Bobby dalam keterangannya.
Ia menjelaskan sektor perkeretaapian memiliki posisi strategis dalam mendukung agenda ketahanan energi nasional karena melayani mobilitas masyarakat sekaligus distribusi logistik dalam skala besar.
Karena itu, setiap upaya efisiensi energi yang dilakukan KAI diharapkan dapat memberikan dampak langsung terhadap keberlanjutan layanan transportasi publik dan daya saing logistik nasional.
"KAI harus memastikan bahwa transisi energi menghasilkan manfaat nyata, baik dari sisi keandalan layanan, efisiensi energi, maupun kontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan," ujar Bobby.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pengujian teknis penggunaan B50 telah dimulai sejak April 2026 bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Pengujian dilakukan pada lokomotif dan genset kereta api untuk mengevaluasi performa mesin, konsumsi bahan bakar, emisi, serta ketahanan sarana dalam kondisi operasional.
Pada pengujian lokomotif, KAI menggunakan lokomotif CC206 yang dioperasikan bersama rangkaian KA Sembrani. Sementara itu, pengujian genset dilakukan pada KA Bogowonto dengan membandingkan performa penggunaan bahan bakar B40 dan B50.
"Hasil pengujian menjadi dasar evaluasi KAI, terutama terkait performa mesin, konsumsi bahan bakar, stabilitas operasional, kondisi filter, aspek emisi, dan kebutuhan perawatan sarana. Prinsip kami jelas, transisi energi harus berjalan sejalan dengan keselamatan dan keandalan operasi," kata Anne.
Saat ini KAI masih melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap hasil pengujian sebelum implementasi B50 diterapkan secara lebih luas pada operasional kereta api.
Secara bertahap, penggunaan biodiesel di lingkungan KAI terus meningkat, mulai dari B20 pada 2018-2019, B30 pada 2020-2022, B35 pada 2023-2024, hingga B40 pada 2025-2026 sebelum memasuki tahap pengujian B50 pada tahun ini.
Dari sisi keberlanjutan, transisi dari B35 menuju B50 diproyeksikan mampu menurunkan emisi hingga 133.676 ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e). Angka tersebut menjadi kontributor terbesar dalam program dekarbonisasi KAI periode 2025-2030.
Bobby menegaskan KAI akan terus memperkuat peran transportasi berbasis rel dalam mendukung transformasi energi nasional. Menurut dia, keberlanjutan harus berjalan beriringan dengan layanan transportasi yang aman, andal, dan terjangkau.
"Roadmap biodiesel dari B0 menuju B50 menunjukkan bahwa kereta api memiliki peran penting dalam transformasi energi Indonesia. Dengan dukungan pemerintah, KAI akan terus menjaga layanan transportasi publik dan logistik tetap andal, sekaligus memperkuat kontribusi terhadap ketahanan energi nasional, penurunan emisi, dan daya saing ekonomi," ujar Bobby.

4 hours ago
4
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509321/original/086615600_1771679962-SnapInsta.to_630114161_18162147202417018_2870114530835891224_n__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5499312/original/081206000_1770782561-Depositphotos_132132754_XL.jpg)















