Minyak Dekati 109 Dolar AS, Krisis Solar Mulai Ancam Inflasi Dunia

6 hours ago 13

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tekanan perang Iran terhadap ekonomi global semakin terasa. Harga minyak Brent mendekati 109 dolar AS per barel pada Jumat (11/9/2026), harga solar Amerika Serikat menembus rekor di atas 6 dolar AS per galon, sementara lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz kembali menyusut tajam.

Harga Brent naik menjadi sekitar 108,68 dolar AS per barel pada perdagangan Jumat, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) mencapai 103,45 dolar AS. Keduanya berada di jalur membukukan kenaikan mingguan sekitar 13 persen, dengan minyak berpotensi menutup satu pekan di atas 100 dolar AS untuk pertama kalinya sejak pertengahan Mei.

Lonjakan itu terjadi setelah rangkaian serangan baru terhadap kapal dan fasilitas energi di kawasan Teluk memperbesar kekhawatiran mengenai pasokan. Reuters melaporkan Brent sehari sebelumnya melonjak lebih dari enam persen menjadi 107,63 dolar AS per barel, sedangkan WTI mencapai 102,48 dolar AS.

Masalah yang kini semakin mendapat perhatian bukan hanya harga minyak mentah. Pasokan solar, bensin dan bahan bakar jet ikut mengetat setelah perang Iran, serangan Ukraina terhadap kilang Rusia, pembatasan ekspor solar Rusia, dan terganggunya produksi kilang di sejumlah kawasan terjadi secara bersamaan.

“Konflik telah memasuki tahap baru,” kata Wakil Presiden Senior Rystad Energy Susan Bell, sebagaimana dilaporkan Fortune pada Kamis, 10 September 2026. “Persediaan global solar, bensin, dan bahan bakar jet telah terkuras sangat besar. Sekarang semuanya berada pada tingkat kritis yang rendah.”

Menurut Bell, level persediaan sejumlah bahan bakar olahan telah turun ke tingkat yang terakhir terlihat setelah Rusia menginvasi Ukraina. Kondisi tersebut meningkatkan risiko munculnya kantong-kantong kelangkaan bahan bakar apabila gangguan pasokan berlangsung hingga musim gugur dan musim dingin.

Hormuz Kembali Tersendat

Tekanan terbesar tetap datang dari Selat Hormuz, jalur sempit yang sebelum perang dilewati sebagian besar ekspor energi dari negara-negara Teluk. Gangguan di kawasan tersebut membuat pasar sangat sensitif terhadap setiap serangan baru terhadap kapal tanker.

Data pelacakan kapal yang dikutip Reuters menunjukkan hanya tujuh kapal melintasi Hormuz pada Rabu. Jumlah itu turun dari 12 kapal sehari sebelumnya dan hanya separuh rata-rata 10 hari yang mencapai 14 kapal.

Dari tujuh kapal tersebut, empat meninggalkan Teluk dan tiga masuk. Tidak satu pun kapal tanker gas alam cair atau LNG tercatat melintas, meskipun Reuters mengingatkan terdapat kemungkinan sejumlah kapal bergerak dengan transponder dimatikan sehingga tidak masuk dalam perhitungan.

Penggunaan metode “dark crossing” atau pelayaran dengan sistem pelacakan dimatikan memang membuat volume sebenarnya sulit dihitung. Namun, analisis Reuters menunjukkan sekitar sepertiga ekspor minyak Teluk masih hilang dibandingkan sebelum perang, meskipun sebagian tanker terus melintas tanpa terdeteksi secara normal.

Ekspor negara-negara Teluk kini diperkirakan berkisar 15 juta hingga 16 juta barel per hari atau sekitar dua pertiga tingkat sebelum perang. Kondisi tersebut menunjukkan pasokan belum berhenti sepenuhnya, tetapi pasar kehilangan bantalan dalam jumlah sangat besar.

Read Entire Article
Food |