Prancis Lebih Termotivasi Hadapi Inggris demi Mbappe Raih Sepatu Emas Piala Dunia 2026

6 hours ago 3

Pemain Prancis Kylian Mbappe melakukan selebrasi seusai mencetak gol ke gawang Maroko dalam pertandingan perempat final Piala Dunia FIFA 2026 di Boston, AS, Jumat (9/7/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026 memang kerap dipandang sebagai laga pelipur lara. Namun, bagi Prancis dan Inggris, duel di Hard Rock Stadium, Miami, Ahad (19/7/2026) pukul 04.00 WIB, tetap menyimpan pertaruhan besar.

Bagi Les Bleus, pertandingan ini menjadi kesempatan terakhir mengantarkan sang kapten, Kylian Mbappe, meraih Sepatu Emas Piala Dunia. Sementara bagi Inggris, laga ini bisa menjadi jalan bagi Thomas Tuchel untuk meredakan tekanan yang mengarah kepadanya setelah kegagalan membawa Three Lions ke final.

Mbappe saat ini mengoleksi delapan gol, sama dengan kapten Argentina Lionel Messi yang akan tampil di partai final melawan Spanyol. Dengan final diperkirakan berlangsung ketat, peluang Mbappe menambah pundi-pundi gol saat menghadapi Inggris terbuka lebar.

Harry Kane dan Jude Bellingham sebenarnya masih berpeluang menyalip keduanya. Namun, masing-masing baru mengoleksi enam gol sehingga membutuhkan penampilan luar biasa untuk merebut Golden Boot.

Pelatih Prancis Didier Deschamps menegaskan bahwa finis di peringkat ketiga tetap lebih baik daripada harus pulang di posisi keempat. Di balik pernyataan itu, Deschamps juga berpeluang memberikan hadiah perpisahan yang manis bagi Prancis apabila Mbappe berhasil menjadi top skor turnamen.

Karena itu, lini depan Prancis diperkirakan tidak akan banyak berubah. Mbappe kemungkinan tetap menjadi tumpuan serangan bersama Michael Olise. Sementara rotasi lebih besar diprediksi terjadi di lini tengah dan belakang, terutama setelah William Saliba mengalami cedera.

Nama-nama seperti Rayan Cherki, Marcus Thuram, Maghnes Akliouche, Jean-Philippe Mateta, N'Golo Kante, dan Warren Zaire-Emery berpeluang mendapat menit bermain lebih banyak.

Di kubu Inggris, tekanan justru mengarah kepada Tuchel. Kekalahan dramatis 1-2 dari Argentina di semifinal memicu kritik terhadap sejumlah keputusan sang pelatih, termasuk minimnya kesempatan bermain bagi Kobbie Mainoo sepanjang turnamen.

sumber : Antara

Read Entire Article
Food |