REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di antara keluarga-keluarga yang disebut dalam Alquran, ada satu nama yang diabadikan bukan sekadar sebagai individu, melainkan sebagai sebuah garis keturunan yang dimuliakan: Keluarga Imran.
Dalam Surah Āli ‘Imrān ayat 33–34, Allah menegaskan bahwa Dia telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran di atas seluruh alam, “sebagai satu keturunan yang sebagian berasal dari sebagian yang lain.” Di dalam kalimat yang ringkas itu tersimpan makna mendalam: kemuliaan yang berkesinambungan, iman yang diwariskan, dan kesucian yang terjaga lintas generasi.
Imran yang dimaksud dalam surah tersebut adalah ayah Maryam, perempuan suci yang kelak melahirkan Nabi Isa ‘alaihis salam. Ia berasal dari Bani Israil, keturunan Nabi Ibrahim melalui jalur Ishaq dan Ya‘qub. Garisnya adalah garis para nabi, sebuah mata rantai panjang dalam sejarah kenabian. Dalam tradisi Islam, Imran dikenal sebagai sosok saleh, penjaga nilai, dan bagian dari keluarga yang hidup dalam pengabdian kepada Tuhan. Ia bukan raja, bukan pula pemimpin militer, melainkan figur keluarga yang namanya harum karena kesalehan.
Kisah keluarga ini justru dimulai dari seorang perempuan: istri Imran. Alquran merekam nazarnya dalam Surah Āli ‘Imrān ayat 35. Ia memohon kepada Allah agar anak yang dikandungnya kelak menjadi hamba yang sepenuhnya berkhidmat kepada-Nya. Nazar itu lahir dari ketulusan, bukan ambisi. Ia tidak meminta kedudukan atau kemasyhuran bagi anaknya, melainkan pengabdian. Dalam suasana spiritual itulah Maryam dilahirkan, seorang bayi perempuan di zaman ketika ruang-ruang ibadah didominasi laki-laki. Namun Allah menerima nazar itu dengan cara-Nya sendiri.
Maryam tumbuh dalam asuhan Nabi Zakariya, di lingkungan Baitul Maqdis. Ia dikenal sebagai pribadi yang tekun beribadah, menjaga diri, dan tenggelam dalam kesunyian doa. Surah Āli ‘Imrān ayat 42 menyebutkan bahwa Allah telah memilih, menyucikan, dan memuliakannya di atas seluruh perempuan di alam. Dalam sejarah keagamaan dunia, hampir tidak ada perempuan lain yang namanya disebut secara eksplisit dalam kitab suci dan dimuliakan sedemikian rupa. Maryam menjadi simbol kesucian yang melampaui sekat tradisi; ia dihormati dalam Islam sekaligus dalam Kekristenan.
Dari rahim Maryam lahir Nabi Isa ‘alaihis salam, kelahiran yang menjadi mukjizat dan tanda kekuasaan Allah. Di sinilah keluarga Imran menempati posisi unik dalam sejarah: dari garis keturunan mereka lahir seorang perempuan suci dan seorang nabi besar. Kemuliaan keluarga ini bukan karena kekayaan, bukan pula karena kekuasaan politik, melainkan karena kesetiaan pada amanah dan kejernihan niat. Mereka adalah “dzurriyyatan ba‘ḍuhā min ba‘ḍ”, keturunan yang satu menyambung yang lain dalam kebaikan.
Lalu, apa kaitan kisah ini dengan Ramadan yang sedang kita jalani?
Ramadan adalah bulan ketika Alquran diturunkan, bulan ketika langit terasa lebih dekat dengan bumi. Ia adalah madrasah keikhlasan, tempat manusia belajar menata niat, menahan diri, dan memurnikan tujuan hidup. Jika Ramadan adalah bulan penyucian jiwa, maka keluarga Imran adalah teladan penyucian niat dalam lingkup keluarga.

4 hours ago
1









































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)






