Tak Selalu Bahagia, Mereka Merayakan Idul Fitri Dalam Kesedihan Penuh Derita

2 days ago 11
Update Kabar Hot Petang Cermat Non Stop

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Idul Fitri. Apa yang ada di benak kita? ketupat lebaran dengan segala kelezatan, silaturahmi dengan keluarga dan teman, dan canda tawa. Sungguh penuh kebahagaiaan. Tapi ternyata, tak semua orang merayakan Lebaran dengan bahagia. Ada yang menikmati hari besar keagamaan itu dengan kesedihan, derita, dan penuh duka.

Bagi orang yang seperti itu, perayaan Idul Fitri diiringi dengan air mata dan doa yang lirih. Seperti yang dialami Rahmat (54), yang menghabiskan malam sebelum Lebaran di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Siti Fatimah Az-Zahra di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Alih-alih merayakan malam takbiran di rumah bersama keluarga, ia harus mendampingi istrinya yang tengah berjuang melawan sakit.

Di malam Lebaran, suara monitor medis berpadu dengan langkah cepat perawat yang berpindah dari satu ranjang pasien ke ruangan lainnya. Sementara itu, lantunan takbir "Allahu akbar... Allahu akbar... Wa lillahil hamd..." mulai menggema dari masjid-masjid, mengingatkan bahwa malam itu seharusnya menjadi malam kebersamaan di rumah, bukan di ruangan beraroma obat-obatan.

Rahmat tampak tenang, meski dalam hatinya bergelut kekhawatiran. Ia duduk bersandar di sudut ruangan, matanya menatap gorden yang menutupi tempat tidur sang istri, yang tengah menjalani perawatan intensif dengan tubuh dipenuhi selang medis. Dengan tatapan penuh harap, ia menggenggam kedua tangannya, menyalurkan doa dalam diam untuk kesembuhan belahan jiwanya.

Suasana ruangan IGD, malam itu semakin tegang. Beberapa perawat keluar masuk dari balik tirai tempat istrinya dirawat. Dari mereka tampak membawa rak dorong yang bermuatan sejumlah peralatan medis, salah satunya serupa alat pemacu detak jantung. Sementara itu, pasien terus berdatangan, nyaris memenuhi belasan ranjang pemeriksaan yang tersedia.

Di ruangan yang bersebelahan, Doni (24) juga merasakan kesedihan yang mendalam. Ia harus menemani saudara iparnya yang tiba-tiba mengalami vertigo dan gerd akut setibanya di Palembang pada Sabtu (29/3) malam. Sesekali, Doni dan Rahmat berbincang, saling menguatkan di tengah suasana yang penuh kecemasan.

Cobaan yang dihadapi Doni belum berhenti di situ. Sehari sebelumnya, ia menerima telepon dari saudaranya yang membawa kabar duka, sang kakek, yang sekaligus menjadi sosok ayah bagi keluarga besarnya, telah meninggal dunia pada Jumat (28/3) malam, beberapa jam setelah berbuka puasa. Udara dingin di ruang IGD terasa semakin menusuk. Bingung dan sedih bercampur dalam hati.

sumber : Antara

Read Entire Article
Food |