REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pelatihan "War Journalism Training Program" resmi dibuka di markas kantor berita Turki, Anadolu Agency di Ankara, Senin (14/9/2026). Pelatihan jurnalisme perang ini merupakan yang ke-30 dengan tujuan agar para jurnalis mempunya bekal meliput di zona perang, area bencana dan kedaruratan lainnya.
Total ada 25 jurnalis yang ikut dalam pelatihan ini, 16 di antaranya berasal dari negara Asia Tenggara dan Pasifik yakni Laos, Malaysia, Vietnam, Kamboja, Filipina, Indonesia dan Papua Nugini. Sementara sembilan lainnya berasal dari Anadolu.Dari Indonesia, wakil Republika menjadi satu-satunya yang ikut bergabung dalam pelatihan tersebut.
Program pelatihan selama 12 hari ini diselenggarakan melalui kerja sama dengan Akademi Kepolisian Turki dan Badan Kerja Sama dan Koordinasi Turki (TIKA).
Wakil Direktur Jenderal untuk Urusan Administrasi dan Keuangan Anadolu, Oguz Enis Peru, mengungkapkan sebanyak 654 profesional media lokal dan internasional telah ikut dalam pelatihan pada 29 edisi program sebelumnya. Peru menyebutkan bahwa pelatihan ini mencakup berbagai materi, mulai dari teori dan terminologi perang serta hukum konflik dalam perang.
Partisipan juga akan dibekali ilmu tentang pertolongan pertama, teknik mengemudi tingkat lanjut, balistik, bahan peledak, ranjau, keamanan pribadi, dan keterampilan bertahan hidup di air.
Para peserta juga akan menerima pelatihan mengenai teknologi dan keamanan informasi dalam situasi darurat, perlindungan terhadap disinformasi dan ancaman drone first-person-view (FPV), psikologi perang, serta peliputan bencana alam.
"Kami sangat mengutamakan penguatan kompetensi profesional dan keselamatan lapangan bagi para jurnalis kami yang bertugas di berbagai belahan dunia," ujar Peru.
Ia menambahkan bahwa materi mengenai geopolitik Asia telah disertakan untuk pertama kalinya tahun ini, sebagai cerminan dari partisipasi jurnalis asal Asia Tenggara dan kawasan Pasifik.
Wakil Kepala TIKA, Bugra Aydin, menyatakan bahwa program ini telah menjadi inisiatif yang dihormati secara internasional. Pelatiha ini mengenang para jurnalis yang gugur saat meliput serangan Israel di Jalur Gaza.
"Kebenaran sering kali tersembunyi di balik hati nurani yang teguh dan tidak memihak di tengah situasi yang sulit," ujar Aydin.
"Keberanian dan dedikasi profesional yang Anda tunjukkan dengan mengikuti pelatihan ini sangat layak mendapatkan apresiasi."
Wakil Presiden Akademi Kepolisian, Fatih Inal, menggambarkan inisiatif ini sebagai program pelatihan jurnalisme perang bersertifikat yang unik. Ia mengatakan bahwa para instruktur akan berbagi pengalaman kondisi lapangan serta kemampuan teknis mereka dengan para peserta.
Inal berharap para peserta tidak perlu menggunakan keterampilan yang mereka peroleh di zona perang yang sesungguhnya. Ini mengingat pelatihan ini diselenggarakan di tengah konflik yang masih berlangsung di berbagai belahan dunia.
Ia mendedikasikan program tahun ini bagi para jurnalis dan warga sipil tak berdosa yang tewas dalam peperangan, khususnya jurnalis yang gugur di Gaza.
"Saya ingin mendedikasikan program ini secara khusus bagi perempuan dan anak-anak tak berdosa yang tak berdaya, serta para jurnalis yang kehilangan nyawa di Gaza saat menjalankan praktik jurnalisme yang adil dan jujur," ujarnya.
Inal juga menegaskan bahwa peliputan perang tidak terbatas pada konflik bersenjata saja, seraya mencatat bahwa jurnalis menghadapi kondisi yang sama menantangnya saat meliput gempa bumi, banjir, kebakaran hutan, dan bencana lainnya.
Teori Perang

3 hours ago
7
















































