REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hampir dua bulan pertama memimpin Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, Kepala BRIN menjalani hari-hari panjang. Ia datang pagi, kerap sebelum sebagian besar pegawai tiba, dan baru kembali ke kediamannya di Sentul, Bogor, larut malam.
Ritme itu berlangsung nyaris tanpa jeda. Dalam fase awal kepemimpinannya, Arif lebih memilih mendengar daripada berbicara—menyerap kegelisahan periset, membaca laporan yang menumpuk, serta menelusuri persoalan-persoalan yang selama ini tersembunyi di balik kompleksitas lembaga riset terbesar di Indonesia.
Tak hanya berkutat di balik meja, Arif turun langsung ke lapangan. Ia mendatangi berbagai pusat riset BRIN di sejumlah kota di Indonesia. Dari laboratorium hingga kawasan riset terpadu, ia memastikan fasilitas benar-benar berfungsi, peralatan dapat digunakan, dan aktivitas riset berjalan sebagaimana mestinya.
Kunjungan-kunjungan itu bukan sekadar inspeksi. Ia berdialog dengan periset, teknisi, hingga staf pendukung—menyemangati mereka yang sempat lelah oleh proses integrasi kelembagaan riset yang memang menguras energi.
BRIN memang bukan organisasi biasa. Ia lahir dari peleburan sejumlah institusi riset negara dengan latar belakang budaya kerja dan sejarah berbeda. Proses integrasi itu menyisakan beban psikologis dan birokratis bagi ribuan periset.
Arif memulai transformasi dari dalam, menyentuh hal-hal yang tampak sederhana, namun berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari. Fasilitas bus internal yang sebelumnya berbayar digratiskan.
Kebijakan kecil itu segera menjadi simbol perubahan pendekatan: BRIN ingin hadir sebagai rumah yang lebih humanis.
Langkah berikutnya, mengembalikan para periset ke homebase asal sesuai keilmuan masing-masing untuk kenyamanan kerja. Bagi Arif, kejelasan bidang keilmuan dan kenyamanan homebase adalah fondasi produktivitas riset.
Perhatian pada kesejahteraan periset menjadi agenda penting. Perjuangan peningkatan tunjangan kinerja untuk pegawai dilakukan—sebuah pengakuan bahwa kerja ilmiah bukan sekadar pelengkap pembangunan.
Pada saat yang sama, Arif membuka ruang dialog seluas-luasnya. Audiensi, forum diskusi, hingga komunikasi langsung dijadikan kanal resmi. Budaya birokrasi yang kaku dan satu arah perlahan dilunakkan.
Periset didorong untuk bersuara, menyampaikan kritik, bahkan berbeda pendapat. Transformasi juga menyentuh aspek fisik kelembagaan. Pusat-pusat riset dan kawasan penting mulai dihidupkan kembali.
Kawasan riset di Subang dan Ancol ditata ulang agar kembali produktif. Penataan fasilitas riset ini diarahkan kembali pada fungsi utamanya: menghasilkan pengetahuan dan teknologi baru.
Upaya ini diperkuat dengan keputusan strategis menaikkan anggaran riset hingga lima kali lipat, membuka ruang bagi penelitian berskala besar, lintas disiplin, dan berjangka panjang.
Keselamatan dan kenyamanan kerja tak luput dari perhatian. Arif memastikan setiap kantor besar BRIN kini dilengkapi klinik kesehatan. Kebijakan ini krusial, terutama bagi pusat-pusat riset berisiko tinggi seperti nuklir, alat berat, dan keantariksaan.
Bagi Arif, rasa aman adalah prasyarat riset bermutu.Periset tidak boleh bekerja dalam kecemasan.
Langkah progresif lain adalah kebijakan menggratiskan penggunaan alat dan laboratorium BRIN bagi mahasiswa yang sedang melakukan penelitian tanpa sponsor. Kebijakan ini memperkuat peran BRIN sebagai rumah bersama riset nasional, sekaligus menjembatani kesenjangan fasilitas antara lembaga riset negara dan perguruan tinggi.
Di bidang pengembangan sumber daya manusia, Arif mendorong peningkatan kapasitas peneliti secara serius. Beasiswa disediakan, dan para periset didorong menaikkan jenjang pendidikan—dari S1 ke S2, serta dari S2 ke S3.
Investasi terbesar riset, menurut Arif, terletak pada manusia yang menggerakkannya. Pada level kebijakan, Arif menggeser paradigma riset nasional. Selain menjaga riset bottom-up yang lahir dari inisiatif periset, ia memperkuat pendekatan afirmasi atau top-down—riset strategis yang disusun berdasarkan kebutuhan nasional .
Ketahanan pangan, transisi energi, air, perubahan iklim, kesehatan, kebencanaan dan sejumlah industri strategis ditempatkan sebagai prioritas. Namun bagi Arif, keberhasilan riset tidak hanya diukur dari capaian teknologi tinggi.
Ia kerap menekankan, hasil riset harus terasa manfaatnya “dari dapur rumah tangga hingga ke luar angkasa.”
Dalam peta jalan yang ia susun, Arif menyebut 2025 sebagai tahun konsolidasi internal—tahun untuk membenahi fondasi sumber daya manusia, infrastruktur, tata kelola, dan budaya kerja.
Mulai 2026, BRIN diproyeksikan bergerak lebih agresif ke program-program strategis nasional. Konsolidasi, bagi Arif, bukan tujuan akhir, melainkan landasan untuk lompatan besar.
Arif juga sudah menjalin komunikasi dan kunjungan ke lebih dari 20 menteri dan lembaga. Ini penting untuk memastikan riset BRIN berbasis kebutuhan bidang-bidang kebijakan pembangunan yang dikelola kementrian, sehingga science based policy bisa diwujudkan.
Para duta besar, lembaga multilateral, dan sejumlah pimpinan perguruan tinggi dunia juga berdatangan untuk memperkuat kolaborasi dengan BRIN. Arif bertekad membawa BRIN menjadi lembaga riset kelas dunia yang diakui mancanegara.
Untuk memastikan orkestrasi berjalan, Arif membentuk pusat kontrol riset nasional yang memantau dan mempercepat riset-riset strategis. Ia juga menginisiasi pembangunan Rumah Inovasi Indonesia, hub yang menjembatani dunia riset dengan industri.
Revitalisasi turut menyentuh lembaga-lembaga riset super strategis di bawah BRIN. Arif mendorong penguatan kembali peran “LAPAN” dan “BATAN” sebagai tulang punggung riset keantariksaan dan nuklir nasional.
Keduanya diproyeksikan memiliki otonomi lebih kuat agar mampu menghasilkan riset terbaik dan berdaya saing global. Rangkaian perubahan itu menghadirkan efek psikologis yang kuat di kalangan periset. Kehadiran Arif Satria memunculkan semangat baru di BRIN.
Para periset kini berlomba mengusulkan riset berdampak—riset yang tak berhenti pada dokumen Scopus, tetapi berujung pada kebermanfaatan nyata bagi masyarakat, industri dan negara.
Dalam lanskap riset nasional yang sempat kehilangan arah, Arif kerap dipandang sebagai figur pemulih, bahkan oleh sebagian periset disebut sebagai penyelamat dunia riset Indonesia.
Perubahan tentu tidak sepenuhnya sunyi dari resistensi. Namun pendekatan Arif yang senyap, konsisten, dialogis, dan berbasis kerja nyata memberi arah yang jelas. Arif tidak pernah menyalahkan keadaan.
Justru Arif selalu mengapresiasi kepemimpinan sebelumnya yang telah memberikan landasan BRIN. Yang Arif lakukan adalah mencari solusi karena ia meyakini transformasi di manapun pasti ada titik-titik yang belum sempurna yang perlu sentuhan untuk penyempurnaan.
Jika jalur ini terjaga, BRIN berpeluang menjelma sebagai fondasi masa depan Indonesia berbasis ilmu pengetahuan—bekerja dalam diam, namun menentukan arah zaman.

1 week ago
11












































