Apa yang Disorot ASEAN pada Rusia yang Gagal Dilihat Barat?

5 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saat Barat mengisolasi Rusia sejak pecahnya perang Ukraina, sebuah pemandangan berbeda justru muncul di Kota Kazan. Para pemimpin dan pejabat tinggi dari Asia Tenggara datang bergantian menghadiri pertemuan dengan Moskow.

Tidak ada kursi kosong. Tidak ada tanda-tanda pengucilan. Sebaliknya, yang terlihat justru minat untuk memperluas kerja sama. Di sinilah pertanyaan besar muncul.

Jika Rusia benar-benar terisolasi seperti yang sering digambarkan di Barat, mengapa negara-negara ASEAN masih aktif membangun hubungan dengannya?

Pertanyaan itu menjadi semakin menarik karena pertemuan di Kazan bukan sekadar perayaan diplomatik biasa. Rusia dan ASEAN sedang memperingati 35 tahun kemitraan mereka, sebuah hubungan yang kini berkembang di tengah perubahan besar lanskap geopolitik dunia.

Namun yang terjadi di Kazan sesungguhnya bukan hanya tentang Rusia. Ini juga tentang ASEAN.

Selama puluhan tahun, banyak orang menganggap Uni Eropa sebagai model utama integrasi regional. Brussel dipandang sebagai contoh paling sukses tentang bagaimana negara-negara berdaulat menyerahkan sebagian kewenangannya kepada lembaga bersama demi menciptakan pasar dan kekuatan politik yang lebih besar.

Tetapi kini muncul sebuah model yang berbeda. ASEAN tidak memiliki parlemen supranasional seperti Uni Eropa. Tidak memiliki komisi yang dapat mengatur negara-negara anggotanya. Tidak pula memiliki struktur politik yang memaksa anggota mengikuti satu garis kebijakan.

Namun organisasi ini terus tumbuh. Ekonominya berkembang menjadi salah satu yang paling dinamis di dunia. Populasinya mendekati 700 juta jiwa. Jalur-jalur perdagangan global melintasi wilayahnya. Investasi terus mengalir.

Mengapa model yang jauh lebih longgar ini justru berhasil?

Profesor hubungan internasional MGIMO Rusia, Aleksandr Bobrov, menilai ASEAN telah menunjukkan bahwa integrasi regional tidak harus dibangun dengan memindahkan kekuasaan utama ke lembaga supranasional.

"ASEAN membuktikan bahwa negara-negara dapat bekerja sama secara erat tanpa kehilangan ruang gerak strategis masing-masing," kata Bobrov, sebagaimana diberitakan Russia Today pada Jumat (19/6/2026)

Namun itu baru lapisan pertama cerita. Bagi Moskow, ASEAN bukan sekadar organisasi regional.

ASEAN adalah pintu masuk menuju salah satu pusat pertumbuhan ekonomi terbesar abad ke-21. Kawasan ini menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik, menguasai jalur perdagangan yang menjadi urat nadi ekonomi global, serta menjadi rumah bagi sejumlah ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Saat Barat menghujani Rusia dengan sanksi dan pembatasan ekonomi, akses terhadap kawasan seperti ASEAN menjadi semakin penting bagi Rusia.

Read Entire Article
Food |