Ledakan terjadi setelah serangan udara AS di dekat Bandara Higuerote, Miranda, Venezuela pada Sabtu (3/12/2025) dini hari waktu setempat.
REPUBLIKA.CO.ID, BRASILIA – Serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela dan penangkapan kepala negaranya Nicolas Maduro memantik kemarahan di negara-negara Amerika Latin. Kawasan itu sepanjang sejarah kerap jadi sasaran operasi AS menggulingkan pemrintahan yang tak sejalan dengan mereka.
Presiden Brazil Luiz Inacio Lula da Silva mengecam Amerika Serikat karena melakukan “penghinaan serius” terhadap kedaulatan Venezuela dan mengancam perdamaian regional.
“Pemboman di wilayah Venezuela dan penangkapan presidennya melewati batas yang tidak dapat diterima,” tulis Lula dalam postingannya di X. Ia mengatakan bahwa hal tersebut mengancam “pelestarian wilayah tersebut sebagai zona perdamaian”.
Dia mengatakan serangan AS mengingatkan “momen terburuk campur tangan dalam politik Amerika Latin dan Karibia” dan mendesak PBB untuk “merespons dengan penuh semangat”.
Kolombia juga melayangkan kecaman atas serangan AS. “Memperingatkan seluruh dunia bahwa mereka telah menyerang Venezuela,” tulis Presiden Kolombia Gustavo Petro dalam serangkaian pernyataan yang diposting di platform media sosial X.
“Republik Kolombia menegaskan kembali keyakinannya bahwa perdamaian, penghormatan terhadap hukum internasional, dan perlindungan kehidupan serta martabat manusia harus diutamakan dalam segala bentuk konfrontasi bersenjata,” kata Petro.
Dalam postingan terpisah, dia mengatakan Kolombia “menolak agresi terhadap kedaulatan Venezuela dan Amerika Latin”. Petro kemudian mengumumkan pengerahan pasukan militer ke perbatasan Venezuela.
Presiden Miguel Diaz-Canel mengeluarkan kecaman tajam di media sosial, menuduh Washington melakukan “serangan kriminal” terhadap Venezuela dan menyerukan tanggapan internasional yang mendesak.
sumber : Reuters/Associated Press

1 week ago
10











































