Bukan Sekadar Larangan, Ini Alasan Negara Membatasi Medsos Anak di Bawah 16 Tahun

6 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di sebuah pagi yang nyaris sunyi, ketika cahaya pertama menimpa layar-layar gawai di tangan anak-anak, dunia digital kembali mengajukan pertanyaan lama yang belum sepenuhnya terjawab, sampai sejauh mana kebebasan itu boleh diberikan, dan di titik mana perlindungan harus ditegakkan.

Pemerintah Indonesia, melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 atau yang dikenal sebagai PP Tunas, memilih untuk menarik garis itu. Sejak 28 Maret 2026, ruang digital bagi anak di bawah usia 16 tahun mulai dibatasi, sebuah langkah yang oleh banyak pihak dipandang sebagai upaya menata ulang relasi antara anak, teknologi, dan masa depan mereka.

Namun, kebijakan ini bukan sekadar soal regulasi. Ia adalah refleksi dari kegelisahan kolektif, tentang generasi yang tumbuh dalam derasnya arus informasi tanpa sekat, tanpa jeda, bahkan tanpa cukup waktu untuk memahami apa yang mereka lihat.

Pakar komunikasi dari Universitas Hasanuddin, Prof Hafied Cangara, melihat langkah ini sebagai “sesuatu yang positif”, tetapi tidak cukup berhenti pada aturan semata. Ia menekankan pentingnya pengawasan yang terstruktur, termasuk kemungkinan penggunaan aplikasi yang mampu mengontrol penggunaan gawai anak. Tanpa itu, kebijakan hanya akan menjadi pagar tanpa penjaga.

Di negara lain seperti Jepang dan Korea Selatan, pembatasan semacam ini bukan hal baru. Sudah lebih dari satu dekade mereka menanamkan sistem yang memastikan anak tidak bisa begitu saja masuk ke ruang digital tanpa verifikasi usia. Indonesia, meski datang belakangan, setidaknya mulai menapaki jalan yang sama, jalan yang menempatkan perlindungan anak sebagai prioritas.

Di balik itu semua, terdapat fakta yang tak bisa diabaikan. Penelitian menunjukkan, anak yang menghabiskan waktu lima jam sehari di depan layar berisiko mengalami gangguan pada penglihatan, pola tidur, hingga kesehatan mental. Lebih jauh, kecanduan gawai perlahan menggerus kemampuan berpikir dan konsentrasi mereka, sesuatu yang dulu dibentuk kuat melalui interaksi langsung dan disiplin belajar yang ketat.

Kini, lanskap itu berubah. Anak-anak lebih akrab dengan sentuhan layar ketimbang tulisan tangan. Mereka lebih cepat menggulir informasi daripada mencerna makna. Dan di sanalah kegelisahan itu menemukan bentuknya.

sumber : Antara

Read Entire Article
Food |