Fakta Industri Minyak Venezuela: Cadangan Terbesar Dunia, tapi Produksi Terus Turun

1 week ago 11

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Venezuela menyimpan cadangan minyak mentah terbesar di dunia, namun industri migas negara itu berada dalam kondisi tertekan akibat kombinasi salah urus, sanksi, dan keterbatasan infrastruktur. Situasi ini kembali menjadi sorotan di tengah eskalasi konflik dengan Amerika Serikat (AS).

Berikut fakta-fakta kunci industri minyak Venezuela, dirangkum dari Reuters, Ahad (4/1/2026).

Cadangan

Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, namun kapasitas produksi jauh di bawah potensi akibat salah urus, minim investasi, dan sanksi internasional. Data resmi juga menunjukkan persoalan korupsi meresap ke berbagai lini, dari politik hingga bisnis dan penegakan hukum.

Sekitar 17 persen cadangan global atau 303 miliar barel berada di Venezuela, melampaui Arab Saudi sebagai pemimpin OPEC, berdasarkan data Energy Institute.

Sebagian besar cadangan berupa minyak berat di wilayah Orinoco, Venezuela tengah. Produksinya mahal, namun secara teknis relatif sederhana, menurut Departemen Energi Amerika Serikat.

Produksi

Venezuela merupakan anggota pendiri OPEC bersama Iran, Irak, Kuwait, dan Arab Saudi. Produksi sempat mencapai 3,5 juta barel per hari pada 1970-an atau lebih dari 7 persen produksi global.

Pada dekade 2010-an, produksi turun di bawah 2 juta barel per hari dan rata-rata sekitar 1,1 juta barel per hari tahun lalu, setara 1 persen produksi global.

Analis Global Risk Management Arne Lohmann Rasmussen mengatakan, “Jika perkembangan mengarah pada perubahan rezim yang nyata, ini bisa menambah pasokan minyak ke pasar dari waktu ke waktu. Namun, pemulihan penuh membutuhkan waktu.”

Analis MST Marquee Saul Kavonic menilai, perubahan rezim berpotensi mendorong ekspor seiring pelonggaran sanksi dan kembalinya investasi asing.

Sementara Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy Jorge Leon mengatakan, sejarah menunjukkan perubahan rezim yang dipaksakan jarang menstabilkan pasokan minyak dengan cepat, seperti terlihat di Libya dan Irak.

Usaha patungan

Venezuela menasionalisasi industri minyak pada 1970-an dengan membentuk Petroleos de Venezuela S.A. (PDVSA). Pada 1990-an, sektor ini dibuka kembali untuk investasi asing.

Sejak terpilihnya Hugo Chavez pada 1999, kepemilikan mayoritas PDVSA diwajibkan di semua proyek minyak. PDVSA membentuk usaha patungan dengan sejumlah perusahaan global, termasuk Chevron, China National Petroleum Corporation, ENI, Total, dan Rosneft.

Ekspor dan pengolahan

Amerika Serikat pernah menjadi pembeli utama minyak Venezuela. Dalam satu dekade terakhir, China menjadi tujuan utama seiring sanksi AS. Venezuela tercatat berutang sekitar 10 miliar dolar AS kepada China, yang dibayar dengan pengiriman minyak mentah.

Pengiriman dilakukan menggunakan kapal tanker super besar yang sebelumnya dimiliki bersama Venezuela dan China.

Dua kapal dilaporkan mendekati Venezuela pada Desember sebelum Trump mengumumkan blokade seluruh kapal tanker masuk dan keluar.

Dokumen PDVSA dan data pelayaran menunjukkan kapal-kapal tersebut kini menunggu instruksi, sementara ekspor Venezuela nyaris berhenti. Trump menyebut China akan menerima minyak tersebut tanpa penjelasan rinci.

Rusia juga menyalurkan pinjaman miliaran dolar AS kepada Venezuela, meski nilai pastinya tidak diungkap.

sumber : Reuters

Read Entire Article
Food |