Para pemain film horor Aku Harus Mati seusai konferensi pers di Jakarta pada Kamis (27/3/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketika gempuran konten flexing atau pamer kekayaan di media sosial yang seolah menjadi standar baru kesuksesan, sebuah pertanyaan besar sering kali muncul, "Apakah kemewahan tersebut murni hasil kerja keras ataukah ada "harga" gelap yang harus dibayar di baliknya?" Berangkat dari fenomena sosial ini, Rollink Action menghadirkan sebuah karya horor misteri terbaru yang siap mengusik nurani penonton.
Film berjudul Aku Harus Mati disebut bukan sekadar menjual deretan adegan jump scare, melainkan potret mendalam tentang bahaya ambisi yang tak terkendali dan dahaga akan validasi semu. Film garapan sutradara Hestu Saputra ini akan membawa penonton pada perjalanan emosional sekaligus mencekam yang dijadwalkan menghiasi layar bioskop seluruh Indonesia mulai 2 April 2026.
Melalui kolaborasi antara produser eksekutif Irsan Yapto dan Nadya Yapto, serta naskah yang ditulis oleh Aroe Ama, film ini mencoba membedah sisi gelap manusia di era modern yang sering kali terjebak dalam gaya hidup mewah meski harus menanggung beban utang yang mencekik. Pesan utama yang ingin disampaikan dalam film ini sangatlah tajam.
“Di era modern, banyak orang merasa harus terlihat berhasil dan diakui oleh lingkungan. Tekanan itu kadang membuat seseorang tergoda mencari cara instan untuk mencapai kesuksesan,” ujar Irsan dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (27/3/2026).
Dia mengatakan film ini mengajak penonton untuk berpikir kritis mengenai fenomena pamer kekayaan di media sosial. Apakah kesuksesan itu asli hasil keringat sendiri, atau justru hasil dari persekutuan gelap alias pesugihan?

3 hours ago
3






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)

















