REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Tren gaya hidup halal di kalangan anak muda terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Produk makanan, kosmetik, fesyen, hingga layanan kesehatan berbasis halal kini semakin mudah ditemukan dan diminati masyarakat.
Namun, peningkatan kesadaran tersebut belum sepenuhnya diikuti penggunaan layanan keuangan syariah. Asisten Direktur Grup Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Asadulloh Sefnado, menyebut tingkat literasi keuangan syariah masyarakat relatif tinggi, tetapi inklusinya masih rendah.
“Literasi keuangan syariah itu ada di angka 43,42 persen. Sedangkan inklusinya 13,41 persen,” ujar Sefnado dalam Focus Group Discussion (FGD) Road to ISF 2026 bertajuk “Beyond Awareness: Dari Gaya Hidup Menjadi Inklusi” yang digelar Republika bersama FoSSEI, Rabu (13/5/2026).
Data OJK menunjukkan literasi keuangan syariah terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, penggunaan produk keuangan syariah belum tumbuh secepat peningkatan pemahaman masyarakat.
Menurut Sefnado, kondisi ini menunjukkan masyarakat sudah mengenal konsep keuangan syariah, tetapi belum menjadikannya sebagai pilihan utama dalam aktivitas finansial sehari-hari.
“Artinya awareness masyarakat sudah ada, tetapi belum sampai tahap menggunakan,” katanya.
OJK juga mencatat tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah di kalangan pelajar dan mahasiswa masih berada di bawah rata-rata nasional. Indeks literasi pada segmen tersebut tercatat 40,49 persen, sementara inklusinya baru 10,81 persen.
Kelompok muda dinilai rentan dipengaruhi tren pengelolaan keuangan populer seperti YOLO, FOMO, dan FOPO yang berpotensi mendorong keputusan finansial kurang terencana.
Kreator konten halal Dian Widayanti menilai kesadaran masyarakat muslim terhadap gaya hidup halal mulai berkembang, tetapi masih dominan pada aspek konsumsi.
“Kalau kita ngomongin tentang halal, itu ternyata enggak cuma makanan minuman aja, tapi ada kosmetika, fashion, finance, dan juga kesehatan,” kata Dian.
Ia mencontohkan banyak masyarakat yang selektif memilih makanan halal, namun belum menerapkan prinsip serupa dalam memilih produk keuangan. Menurut dia, penguatan literasi praktis dan pendekatan yang relevan dengan generasi muda diperlukan agar gaya hidup halal dapat terhubung dengan keputusan finansial.
Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah KNEKS, Sutan Emir Hidayat, mengatakan ekonomi syariah tidak bisa hanya mengandalkan label halal atau faktor religiusitas semata.
Ia menilai layanan dan akses juga harus diperkuat agar masyarakat merasa nyaman menggunakan produk syariah.
“Semua yang terlibat dengan lembaga keuangan syariah jangan hanya mengandalkan faktor religiositas,” kata Sutan Emir.
Menurut dia, masyarakat saat ini cenderung memilih layanan yang cepat, praktis, dan mudah dijangkau.
Karena itu, pengembangan ekonomi syariah tidak cukup hanya lewat edukasi, tetapi juga harus dibarengi penguatan ekosistem dan layanan yang kompetitif.

1 month ago
61






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509321/original/086615600_1771679962-SnapInsta.to_630114161_18162147202417018_2870114530835891224_n__1_.jpg)
















