
Oleh: Fahmi Salim (Presidium Majelis Arah Indonesia)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bubarnya Khilafah Utsmaniyah pada tahun 1924 bukan sekadar pembubaran entitas politik formal, melainkan gempa epistemologis yang meruntuhkan kanopi peradaban Islam.
Dunia Muslim seketika terbangun dalam kondisi yatim piatu di hadapan gelombang hegemoni kolonial Barat yang agresif pasca PD-1 (Sykes-Picot 1916 dan Balfour Declaration 1917). Sejak titik nadir itu, selama satu abad penuh (1924–2024-an), peta gerakan dan pemikiran Islam di berbagai belahan bumi disibukkan oleh satu misi eksistensial: bagaimana bertahan hidup, merebut kembali kedaulatan, dan merumuskan identitas di tengah kepungan modernitas sekuler.
Namun, setiap kawasan melahirkan respon dengan watak, ijtihad, dan keterbatasannya masing-masing.
Peta Tipologi Ijtihad Gerakan Islam Pasca-1924
Respons dunia Islam pasca-trauma 1924 dapat dipetakan ke dalam beberapa lokus gerakan dan eksperimen intelektual utama:
Mesir & Levant
Mobilisasi Sosial-Politik Komprehensif dan Radikalisasi Epistemik Wahyu (Ikhwanul Muslimin & Sayyid Quthb): Hasan al-Banna membaca krisis 1924 sebagai hilangnya sistem hidup Islam (syumūliyyatul Islām), yang dijawab melalui kaderisasi massa bertingkat (fard, usrah, mujtama’, hingga cita-cita ustādziyyatul ‘ālam). Secara ideologis, al-Banna mengakui IM dipengaruhi oleh pemikiran trio reformis dan pan-Islamisme: Afghani, Abduh dan Rasyid Ridha.
Eksperimen ini kemudian melahirkan pendalaman epistemologis radikal melalui Sayyid Quthb lewat mahakaryanya, Tafsīr Fī Zhilāl al-Qur’ān. Quthb merefleksikan bahwa krisis umat berakar pada terputusnya manusia dari mata air petunjuk wahyu, menyeret dunia modern kembali ke dalam rahim Jāhiliyyah abad ke-20—kondisi di mana kedaulatan Tuhan (al-Hākimiyyah) dirampas oleh hukum buatan manusia.
Dalam menafsirkan QS. Al-Isra ayat 9, Quthb menegaskan doktrin ke-aqwam-an Al-Qur’an: wahyu adalah cetak biru kehidupan yang paling lurus (al-aqwam) karena ia mencakup keselarasan fitrah jiwa, keadilan sosial, dan tata hukum universal, bukan sekadar teori abstrak. Ia menyerukan lahirnya Jīl Qur’ānī Farīd (Generasi Qur’ani Unik) sebagaimana generasi sahabat—yakni generasi yang meneguk langsung petunjuk dari satu mata air murni (yanbū’ khālis) Al-Qur’an tanpa dicemari filsafat manusia atau hukum jahiliah, lalu menjadikannya instruksi operasional untuk bergerak (harakah).
Kendati pembacaan Quthb sangat revolusioner dalam memutus ketergantungan epistemik dari Barat, polarisasi ekstrem antara Islam dan jahiliyyah serta represi brutal rezim militer pascakolonial kerap menggiring tafsir gerakannya dipahami secara biner-defensif oleh sebagian pengikutnya, membenturkan energi umat pada konfrontasi politik vis-a-vis penguasa ketimbang pelembagaan peradaban jangka panjang.
Turki
Penyelamatan Iman dan Ruang Batin (Bediuzzaman Said Nursi & Risale-i Nur): Di jantung sekularisasi radikal Kemal Attaturk, Said Nursi mengambil manuver cerdas: tidak melawan negara secara fisik, melainkan membangun benteng iman (tahqiqul iman) lewat karya tafsir tematik Risale-i Nur.
Ia menyelamatkan nalar Qur’ani generasi Turki dari materialisme positivistik pada level mikro-spiritual ketika panggung politik makro dibumihanguskan. Dakwah Risale-i Nur di kemudian hari mengantarkan kebangkitan kesadaran identitas Islam. Lalu secara politik baru muncul massif di era PM Necmettin Erbakan (1997) lalu dilanjutkan sang murid, Recep T Erdogan yang mendirikan AKP Turki yang mendominasi politik Turki pada 2002-2026.
Hiruk pikuk dinamika politik Islam di Turki pasca tragedi 9/11 WTC New York hingga upaya kudeta gagal kelompok Fethullah Gulen pada 2016 membuat agenda pelembagaan Qur’an dalam institusi Turki cukup terganggu.
Semenanjung Arab
Pemurnian Akidah dan Legitimasi Negara (Ortodoksi Salafi-Wahabi): Di Arab Saudi, aliansi politik-ulama sejak 1925 mengonsolidasikan purifikasi tauhid dari takhayul, bid’ah, dan khurafat. Karakter literalisnya sangat efektif menjaga ortodoksi teks dan stabilitas domestik, namun dalam perkembangannya kerap mengalami kekakuan metodologis saat berhadapan dengan kompleksitas sistem tata kelola negara modern, sains, dan dinamika geopolitik kontemporer.
Benturan hebat antara rejim dinasti Al Saud dengan ulama reformis dan kelompok ortodoksi Hay’ah Amar Makruf Nahy Munkar pada 2017 hingga kini masih menyisakan pertanyaan masa depan simbiosis mutualisme antara rejim dan kelompok Islam politik di Saudi untuk merespon tantangan hegemoni Israel dan Iran di kawasan.
Asia Selatan
Cetak Biru Negara Ideologis (Sayyid Abul A'la Al-Maududi & Jamaat-e-Islami): Di Pakistan, Maududi memformulasikan Islam sebagai ideologi tandingan terhadap Marxisme dan Demokrasi Kapitalis, dengan doktrin sentral Hakimiyyatullah (kedaulatan mutlak milik Allah). Pemikiran ini melahirkan kesadaran politik yang kokoh, namun tak jarang mereduksi kekayaan spiritual dan etika Qur’ani menjadi sebatas narasi hukum tata negara legal-formalistik.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
6
















































