Suasana Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi usai puncak musim haji, Jumat (12/6/2026). Saat ini, jamaah haji Indonesia gelombang kedua berada di Madinah sebelum bertolak ke Tanah Air.
REPUBLIKA.CO.ID, Pembinaan jamaah haji Indonesia menjelang kepulangan tidak hanya berisi pengingat nilai-nilai haji. Jamaah juga terus diajak memohon kepada Allah agar seluruh rangkaian ibadah yang telah dijalani diterima.
Menurut Kepala Seksi Bimbingan Ibadah PPIH Daker Bandara, Anis Diyah Puspita, setiap jamaah perlu tetap merendahkan diri karena tidak pernah mengetahui apakah hajinya diterima atau tidak. "Jangan sampai kita lupa untuk tetap minta doa pada Allah agar betul-betul kita dijadikan sebagai haji yang mabrur," kata Anis kepada wartawan Media Center Haji (MCH) usai mengantarkan kepulangan jamaah haji dari kloter YIA 12 di Bandara Amir Muhammad Bin Abdul Aziz, Madinah, Selasa (16/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa jamaah masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri hingga menjelang kepulangan. Menurutnya, seseorang mungkin masih memiliki kekurangan seperti merasa lebih baik dari orang lain atau belum mampu bersabar terhadap sesama jamaah. Karena itu, doa memohon haji mabrur terus dipanjatkan sebelum meninggalkan Tanah Suci. "Ya Allah terimalah haji saya, terimalah ibadah saya. Allahumma 'alna hajjan mabruuran," ujarnya.
Anis mengatakan doa tersebut juga mencakup harapan agar seluruh rangkaian ibadah yang telah dijalankan tidak menjadi sia-sia. Ia menyebut berbagai ritual seperti sa'i, melontar jumrah, hingga thawaf ifadah sebagai bagian dari ibadah yang diharapkan mendapat nilai di sisi Allah. Selain itu, jemaah juga memohon ampunan atas dosa-dosa yang pernah dilakukan. "Supaya kita bersa'i, kita melontar jumrah, kita semua yang kita lakukan thawaf ifadhah sampai semua ritual haji terselesaikan tidak ada yang sia-sia," katanya.
Menurut Anis, salah satu janji Allah pada saat wukuf di Arafah adalah pengampunan dosa bagi hamba-Nya. Karena itu, jemaah diharapkan pulang dengan jiwa yang lebih bersih setelah menjalani seluruh prosesi ibadah haji. Ia berharap kondisi tersebut menjadi bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke Indonesia. "Dosa-dosa kita baik dosa kecil maupun dosa besar diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala," ujarnya.
Anis menambahkan bahwa kemabruran haji harus tercermin dalam perilaku sehari-hari. Ia menjelaskan bahwa keadaban dimulai dari diri sendiri dan keluarga, sedangkan peradaban terlihat dari dampak positif yang diberikan kepada lingkungan sekitar. Oleh sebab itu, menurutnya, haji yang diterima Allah akan melahirkan pribadi yang membawa manfaat bagi masyarakat. "Keadaban yang dimulai dari diri sendiri dan keluarga, peradaban karena dia berdampak pada lingkungan sekitar," tuturnya.

10 hours ago
6































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509321/original/086615600_1771679962-SnapInsta.to_630114161_18162147202417018_2870114530835891224_n__1_.jpg)













:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522741/original/006886600_1772775055-8591.jpg)


