REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dunia kini sedang menahan napas menyaksikan pertaruhan geopolitik terbesar di abad ke-21, di mana ambisi liar Washington untuk mencaplok Greenland bukan lagi sekadar rumor, melainkan ancaman nyata yang siap merombak peta dunia.
Di bawah komando Donald Trump, Amerika Serikat secara agresif menabuh genderang perang diplomatik yang memaksa sekutu-sekutu Eropanya terjepit dalam dilema mematikan: menyerahkan pulau raksasa tersebut atau menghadapi kehancuran ekonomi total melalui perang tarif yang mengerikan.
Beberapa jam sebelum bertolak menuju Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, pada Selasa (20/1/2026), Trump melontarkan pernyataan penuh teka-teki yang memicu spekulasi liar di kalangan intelijen internasional.
"Saya pikir kita akan menemukan solusi yang akan membuat NATO sangat senang, dan membuat kita juga sangat senang," ujarnya dengan nada penuh percaya diri, sebagaimana diberitakan Sky News Arabia. Namun, di balik kalimat diplomatis tersebut, tersirat sebuah pesan dingin bahwa Amerika tidak akan pulang dengan tangan hampa dari resor mewah di Pegunungan Alpen tersebut.
NATO sendiri hingga saat ini masih bersikeras mempertahankan Greenland tetap berada di bawah naungan kedaulatan Eropa, khususnya di bawah kendali Kerajaan Denmark. Bagi aliansi militer Barat, membiarkan Greenland jatuh ke tangan Amerika Serikat secara unilateral akan menciptakan preseden berbahaya yang merusak integritas teritorial anggota NATO lainnya.
Selain itu, Eropa memandang penguasaan Amerika atas wilayah Arktik tersebut akan memberikan Washington dominasi absolut yang tak tertandingi di belahan bumi utara, sehingga menggerus posisi tawar strategis negara-negara Uni Eropa dalam kebijakan keamanan global.
Meski mendapatkan penolakan keras, Trump tetap bergeming dengan alasan tunggal yang ia sebut sebagai "urgensi keamanan nasional". Alasan utama yang mendasari obsesi ini adalah kontrol total atas jalur pelayaran Arktik yang kian terbuka akibat mencairnya es, yang kini menjadi rute logistik paling diperebutkan antara Barat, Rusia, dan China.
Dengan menguasai Greenland, AS dapat menempatkan sistem pertahanan rudal dan fasilitas pengawasan laut yang mampu mendeteksi setiap pergerakan kapal selam maupun rudal balistik lawan jauh sebelum mereka mendekati wilayah Amerika Utara.
Selain posisi strategis, Trump mengincar Greenland sebagai benteng pertahanan sumber daya mineral kritis yang sangat dibutuhkan untuk industri militer dan teknologi masa depan. Greenland menyimpan cadangan unsur tanah jarang (rare earth) terbesar di dunia yang selama ini didominasi oleh China.
sumber : Antara

1 month ago
32


































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)













