Kala Intelijen Eropa Ungkap Kemungkinan Putin Segera Lancarkan Serangan ke Negara-Negara NATO

2 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Sejumlah pejabat intelijen di Eropa mengatakan terdapat kemungkinan Rusia akan melancarkan serangan ke negara-negara NATO dalam waktu "beberapa bulan". Dalam wawancara dengan Guardian dilansir The Week, Senin (21/9/2026), tiga pejabat intelijen Eropa membagikan pandangan mereka akan ancaman potensial dari Moskow.

Michal Kouldeka, kepala dari Badan Intelijen Ceska (BIS), mengatakan, Rusia bisa melancarkan serangan ke perbatasan negara NATO lewat "serangan terbatas, provokasi cipta-kondisi, atau kampanye masif." Dia menyebut skenario itu bisa dilaksanakan dalam waktu beberapa bulan bukan tahun.

Menurut Kouldeka, "banyak pihak saat ini melakukan segalanya yang mereka bisa untuk memastikan hal itu tidak terjadi".

Normund Metzviets, direktur jenderal Badan Intelijen Latvia (VDD), mengatakan, prospek serangan berada langsung di tangan Kremlin. "Kami tidak melihat adanya tanda-tanda serangan segera," kata Metzviets.

Metzviets setuju, ada tanda-tanda bahwa Moskow sedang mempersiapkan sebuah serangan yang lebih menentukan terhadap Eropa. Menurutnya, masih belum jelas apakah rencana serangan tersebut bagian dari sebuah strategi destabilisasi.

"Itu masih menjadi pertanyaan buka apakah mereke memiliki rencana segera dan konkret atau itu hanya dalam konteks percobaan menyeluruh mereka untuk menyebarkan ketakutan dan ketidakpastian di antara masyarakat Barat," kata Metzviets.

Thomas Nilson, kepala dari intelijen militer Swedia, mengatakan dia tidak melihat tanda-tanda Moskow serius untuk bernegosiasi dengan AS terkait perang dengan Ukraina. "Asesmen saya adalah mereka masih berpikir mereka masih bisa memperoleh tujuan strategis, sehingga mereka hanya memainkan teater negosiasi," kata Nilson.

Ketiga pejabat intelijen itu menyatakan bahwa, intensitas serangan sabotase Rusia di Eropa akan meningkat dalam beberapa bulan ke depan. Nilson merujuk pada serangan drone ke bandara Leipzig belum lama ini, di mana ortoritas Jerman menuding itu hasil kerja intelijen Rusia dan menyebutnya sebagai "pengubah permainan".

"Memiliki drone bersenjata dikirim ke bandara sibuk di tengah Eropa...Jika anda memiliki kemampuan serangan yang bisa mengakibatkan kehilangan nyawa atau kerusakan infrastruktur yang berimplikasi besar kepada masyarakat, saya pikir itu adalah pengubah-permainan," ujar Nilson.

Metzviets menambahkan, Rusia saat ini bergerak dari serangan acak ke target-target spesifik dengan tujuan menciptakan kepanikan di antara negara NATO yang mendukung Ukraina. 

"Kami melihat mereka menyerang infrastuktur kereta. Ukraina mendukung infrastuktur. Saat ini kita melihat sebuah gerakan mengarah ke target-target industri," kata Metzviets. "Jika anda melakukan ini maka efek operasi psikologis tercapat, sehingga anda mendapatkan dua hal sekaligus."

Peringatan dari para pejabat intelijen di atas diutarakan menyusul pernyataan dari Perdana Menteri Polandia Donald Tusk, di hadapan parlemen dengan mengungkap, asesmen intelijen meyakini bahwa Rusia akan melancarkan serangan drone atau rudal ke wilayah NATO dalam beberapa bulan ke depan. Serangan itu disebut Tusk sebagai upaya untuk membuktikan bahwa "Artikel 5 (NATO) lebih sekadar teori daripada hal praktis."

Media-media AS melaporkan bahwa Direktur CIA John Ratcliffe bulan lalu mengunjungi Moskow untuk mengingatkan pejabat Rusia agar tidak menyerang negara-negara anggota NATO. Tiga negara yang ditekankan Ratcliffe dalam kunjungan itu yakni Estonia, Lithuania, dan Latvia.

sumber : Antara, Anadolu, Sputnik

Read Entire Article
Food |