Keberanian Hidup

2 hours ago 1

Oleh : Nur Hadi Ihsan Guru Besar Ilmu Tasawuf Universitas Darussalam Gontor

“Berani hidup, tak takut mati.

Takut mati, jangan hidup.

Takut hidup, mati saja.”

— K.H. Ahmad Sahal

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kalimat ini sederhana, tetapi langsung menyentuh inti kehidupan: keberanian untuk menjalani hidup dengan penuh kesadaran. Ia tidak mengajak menjadi luar biasa, tetapi mengajak menjadi utuh—hadir sepenuhnya dalam setiap pilihan dan tanggung jawab.

Di Gontor, semangat seperti ini bukan sekadar ungkapan. Ia menjadi sikap yang dilatih: hidup tidak dihindari, tetapi dihadapi; amanah tidak ditunda, tetapi ditunaikan. Sebab hidup yang bernilai tidak lahir dari kemudahan, melainkan dari keberanian untuk tetap berjalan di jalan yang benar.

Makna keberanian di sini bukanlah ledakan emosi atau kenekatan tanpa arah. Ia lahir dari kejernihan batin: kesadaran bahwa ujian adalah bagian tak terpisahkan dari jalan menuju Allah. Dalam pandangan Imam al-Ghazali, jiwa hanya matang melalui mujahadah—perjuangan sunyi untuk menundukkan diri dan meluruskan niat. Dari situlah keberanian sejati tumbuh: tenang di luar, tetapi teguh di dalam.

Keberanian bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia tumbuh dari kebiasaan yang dijaga: jujur meski berat, benar meski sendiri, dan istiqamah meski perlahan.

Dalam khazanah tasawuf, keberanian semacam ini adalah hasil dari tazkiyat al-nafs—penyucian jiwa dari ketergantungan kepads selain Allah. Sebab, yang sering melemahkan manusia bukanlah dunia di luar, tetapi keraguan di dalam dirinya sendiri.

Menempatkan Rasa Takut

Rasa takut tidak perlu dihapus, tetapi diarahkan. Syed Muhammad Naquib al-Attas menjelaskan bahwa adab adalah kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya yang tepat. Termasuk rasa takut: ia semestinya mengantarkan manusia kepada Allah, bukan menjauhkannya dari hidup.

Ketika rasa takut diarahkan kepada dunia, langkah menjadi sempit dan penuh pertimbangan yang melemahkan. Namun, ketika rasa takut kembali kepada Allah, hati menjadi lapang. Dari kelapangan itulah keberanian tumbuh—tenang, tidak bergejolak, tetapi pasti.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Food |