Kehabisan Rudal Mahal, AS Kini Andalkan Ribuan Drone Murah untuk Berperang

13 hours ago 16

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Amerika Serikat (AS) sedang mempercepat perubahan cara berperangnya. Setelah perang melawan Iran menekan persediaan sejumlah rudal mahal dan berpresisi tinggi, Komando Pusat AS atau CENTCOM kini membangun kekuatan drone serang yang dapat datang dari udara, permukaan laut, bahkan bawah permukaan laut.

Pada 13 Agustus 2026, CENTCOM mengumumkan upaya membentuk Task Force Falcon Strike, gugus tugas serangan drone multidomain dan multinasional pertama di bawah komando tersebut. Falcon Strike akan menggunakan sistem nirawak serang satu arah yang beroperasi dari udara, di atas permukaan laut, dan di bawah laut serta melibatkan personel AS bersama mitra-mitra regional.

Pengumuman itu terlihat lebih signifikan jika dibaca bersama perkembangan yang terjadi hanya sehari kemudian. Pada 14 Agustus, Pentagon menandatangani kerangka kesepakatan dengan Boeing dan RTX untuk meningkatkan kapasitas produksi komponen pencegat SM-3 Block IB dan SM-3 Block IIA, bagian penting dari sistem pertahanan rudal Aegis.

Dua peristiwa dalam dua hari tersebut memperlihatkan tekanan yang sedang dihadapi mesin perang Amerika. Washington harus memperbesar kembali produksi persenjataan konvensional berteknologi tinggi, tetapi pada saat bersamaan berusaha memperluas penggunaan senjata nirawak yang lebih murah dan dapat dikerahkan dalam jumlah lebih besar.

Latar belakangnya adalah perang panjang dengan Iran. Reuters melaporkan pada awal Agustus bahwa Angkatan Darat AS telah menggunakan hampir seluruh persediaan ATACMS dan Precision Strike Missile atau PrSM dalam lima bulan perang dengan Iran. Sekitar setengah persediaan global rudal jelajah Tomahawk juga telah digunakan, sementara persediaan pencegat Patriot dan THAAD mengalami tekanan berat.

Situasi itu mengungkap salah satu persoalan klasik peperangan modern. Rudal berpresisi tinggi dapat menghasilkan daya rusak luar biasa, tetapi biaya produksinya mahal, rantai pasokannya kompleks, dan persediaannya tidak dapat diganti secepat senjata tersebut ditembakkan dalam konflik berkepanjangan. Drone menawarkan jawaban berbeda.

Bukan berarti drone dapat menggantikan Tomahawk, Patriot, THAAD atau rudal balistik presisi. Namun, untuk sejumlah misi, sistem tanpa awak memungkinkan militer memperoleh daya pukul dengan biaya yang lebih rendah sekaligus mengurangi kebutuhan menerbangkan pesawat berawak ke wilayah yang dilindungi sistem pertahanan udara musuh. Di sinilah Falcon Strike memperoleh arti strategis.

Dari Pesawat Tak Berawak hingga Drone Bawah Laut

Falcon Strike tidak dirancang sebagai skuadron drone udara biasa. CENTCOM secara eksplisit menyebut unit tersebut akan mengoperasikan sistem nirawak dari atas laut, di permukaan laut, dan di bawah permukaan laut. Artinya, ancaman dapat datang dari tiga arah berbeda.

Drone udara dapat menerobos wilayah lawan dan menyerang target di darat. Kapal permukaan nirawak dapat bergerak menuju instalasi pelabuhan atau kapal musuh, sementara sistem bawah laut membuka kemungkinan serangan atau operasi dari ruang yang jauh lebih sulit dideteksi.

Model tersebut mencerminkan konsep peperangan multidomain. Musuh tidak hanya dipaksa mengamati langit, tetapi juga permukaan dan kedalaman laut dalam waktu bersamaan.

Read Entire Article
Food |