REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DKI Jakarta menegaskan pentingnya penguatan ekoteologi sebagai bagian dari praktik keberagamaan yang berpihak pada kelestarian lingkungan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyerahan simbolis bibit tanaman kepada tokoh lintas agama, bertepatan dengan peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama, Sabtu (3/1).
Kepala Kanwil Kemenag DKI Jakarta Adib mengatakan, ekoteologi menempatkan nilai-nilai agama sebagai landasan dalam menjaga keseimbangan alam. Salah satu bentuk konkret yang dapat dilakukan adalah melalui gerakan menanam pohon.
“Ekoteologi adalah bagaimana praktik beragama juga memiliki keberpihakan terhadap lingkungan. Salah satu wujud nyatanya adalah melalui penanaman pohon,” ujar Adib.
Menurutnya, penguatan kesadaran lingkungan menjadi semakin relevan seiring meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi yang terjadi di sejumlah wilayah, khususnya di Sumatra seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Hingga kini, sebagian masyarakat di wilayah tersebut masih menjalani proses pemulihan pascabencana banjir.
“Kita melihat langsung bagaimana dampak kerusakan lingkungan berkontribusi pada bencana. Ini menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap alam harus menjadi bagian dari kesadaran kolektif umat beragama,” katanya.
Adib menjelaskan, bibit tanaman yang diserahkan secara simbolis berupa pohon alpukat. Selain bernilai gizi, tanaman tersebut memiliki tajuk rindang dan sesuai dengan karakter wilayah tropis, termasuk Jakarta.
“Pohon alpukat menjadi simbol ajakan agar umat beragama gemar menanam sebagai investasi jangka panjang bagi lingkungan dan generasi mendatang,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Adib juga menyampaikan amanat Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar pada peringatan HAB ke-80 yang mengusung tema Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju. Dalam amanat tersebut ditegaskan bahwa kerukunan umat beragama merupakan energi kebangsaan yang mendorong kemajuan nasional.
“Kerukunan bukan sekadar ketiadaan konflik, melainkan sinergi produktif yang merajut perbedaan identitas, keyakinan, dan latar belakang sosial menjadi kekuatan kolaboratif,” kata Adib mengutip amanat Menteri Agama.

1 week ago
17











































