Kemenhub Minta Pemudik Atur Waktu Perjalanan dan Hentikan Balon Udara Liar

11 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Perhubungan mengingatkan masyarakat untuk mengantisipasi potensi lonjakan arus balik yang diperkirakan meningkat setelah perayaan Lebaran Ketupat pada 28 Maret 2026. Puncak arus balik Lebaran diperkirakan terjadi pada 24, 28, dan 29 Maret 2026. Tradisi tersebut dapat mendorong pergerakan lanjutan masyarakat yang dalam waktu berdekatan akan kembali ke kota asal menjelang berakhirnya masa libur pada Senin (30/3/2026).

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Kemenhub Ernita Titis Dewi menegaskan, periode akhir pekan, khususnya Sabtu (28/3/2026) dan Ahad (29/3/2026), berpotensi menjadi titik konsentrasi arus balik. Titis mengatakan pergerakan masyarakat cenderung terkumpul dalam waktu yang relatif singkat.

"Ini yang perlu diantisipasi karena berpotensi menimbulkan kepadatan di ruas jalan utama, baik tol maupun arteri, serta pada simpul transportasi,” ujar Titis dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (27/3/2026).

Ia menjelaskan, selain ruas jalan darat, simpul penyeberangan menjadi titik krusial yang memerlukan perhatian khusus. Lintasan penyeberangan seperti Bakauheni dan Ketapang diperkirakan akan mengalami peningkatan volume kendaraan dan penumpang secara signifikan apabila tidak diimbangi dengan pengaturan waktu perjalanan yang baik oleh masyarakat.

Titis menyampaikan optimalisasi buffer zone dan delaying system akan dilakukan untuk mengurai antrean kendaraan yang akan menuju area Pelabuhan Ketapang. Begitu pula dengan pengaturan kendaraan barang sumbu dua yang tidak masuk dalam pembatasan perlu diperhatikan agar berjalan kondusif.

"Buffer zone untuk kendaraan roda empat dan bus dialokasikan di Gran Watudodol dan Kantong Parkir Bulusan. Sementara untuk kendaraan barang di buffer zone Sri Tanjung dan Kantong Parkir PT Pusri dan Pelindo," sambung Titis.

Titis menyampaikan strategi lainnya adalah pengoperasian kapal. Pada kondisi normal sebanyak 28 kapal beroperasi. Namun, untuk kondisi padat sebanyak 30 kapal akan beroperasi, dan untuk kondisi sangat padat akan ada 32 kapal yang beroperasi.

Langkah antisipasi lainnya, Kemenhub bersama kepolisian, pemerintah daerah, serta operator transportasi telah menyiapkan berbagai skenario pengendalian, termasuk pengaturan lalu lintas berbasis kondisi lapangan, optimalisasi kapasitas angkutan penyeberangan, serta penguatan layanan operasional di pelabuhan dan jalur distribusi utama.

"Pengawasan juga dilakukan secara intensif untuk memastikan keselamatan dan kelancaran perjalanan tetap terjaga, termasuk pada aspek kelaikan sarana transportasi dan kesiapan personel di lapangan," ucap Titis.

Namun demikian, sambung Titis, Kemenhub menekankan efektivitas upaya tersebut sangat bergantung pada partisipasi masyarakat dalam mengelola waktu perjalanan. "Kami mengimbau masyarakat tidak melakukan perjalanan secara bersamaan pada waktu puncak. Mengatur jadwal keberangkatan, menjaga kondisi fisik, serta memastikan kendaraan dalam kondisi laik jalan menjadi faktor penting dalam mendukung kelancaran arus balik,” lanjut Titis.

sumber : Antara

Read Entire Article
Food |