Kementan Perluas Kopi Arabika Kerinci 650 Hektare, Perkuat Hulu hingga Pasar

2 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Perkebunan memberikan bantuan perluasan tanaman kopi arabika seluas 650 hektare kepada petani di Kabupaten Kerinci, Jambi. Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperluas areal tanam, tetapi juga memperkuat posisi kopi sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat Kerinci.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Heru Tri Widarto mengatakan peluang pengembangan komoditas kopi masih terbuka luas. Namun peningkatan areal perkebunan harus diikuti dengan penguatan budidaya dan kemampuan menjaga mutu produk.

"Pengembangan komoditas kopi masih sangat besar, sehingga perlu dimanfaatkan melalui penguatan budidaya, menjaga kualitas produk, dan memastikan kesinambungan produksi," kata Heru dalam keterangannya di Jambi, Sabtu.

Program tersebut diarahkan terutama untuk memperkuat sektor hulu. Bagi Kementan, keberhasilan di tingkat budidaya menjadi fondasi untuk memenuhi kebutuhan kopi di pasar domestik maupun pasar ekspor.

Pada tahap pertama, penanaman arabika dilakukan di lahan seluas 320 hektare. Sebanyak 46 kelompok tani menjadi penerima manfaat program yang anggarannya bersumber dari APBN.

Pemerintah Kabupaten Kerinci dalam keterangan resminya pada Jumat, 18 September 2026, menyebut penanaman perdana dilakukan bersama masyarakat di Desa Jernih Jaya, Kecamatan Gunung Tujuh. Tahap pertama tersebut menjadi bagian dari total program perluasan 650 hektare sepanjang 2026.

Bukan Sekadar Membuka Lahan Baru

Bupati Kerinci Monadi mengatakan pemerintah daerah akan terus mendorong kopi sebagai sektor strategis untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan masyarakat.

Kerinci, menurut dia, mempunyai faktor geografis, iklim dan karakteristik lahan yang mendukung produksi kopi berkualitas. Daerah tersebut saat ini mengembangkan tiga jenis kopi, yakni arabika, robusta dan liberika.

"Nilai tambah dari komoditas kopi dapat semakin besar dan manfaat ekonominya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Kerinci," kata Monadi.

Karena itu, menurut dia, pengembangan kopi tidak boleh selesai ketika bibit telah ditanam.

Ekosistemnya harus dibangun mulai dari penyediaan bibit unggul, pemeliharaan tanaman, pengendalian organisme pengganggu, pengolahan pascapanen hingga pemasaran dan pengembangan produk olahan.

"Bantuan ini bukan sekadar menambah luas areal perkebunan, melainkan investasi jangka panjang untuk meningkatkan produktivitas, pendapatan, dan kesejahteraan petani," kata Monadi.

Pemerintah Kabupaten Kerinci juga menempatkan petani sebagai salah satu aktor utama pembangunan ekonomi daerah. Dalam kegiatan penanaman perdana tersebut Monadi menegaskan, ketika pendapatan petani tumbuh, perputaran ekonomi masyarakat dan desa juga diharapkan ikut bergerak.

1,4 Juta Bibit untuk Kawasan Kopi

Program perluasan tersebut telah dipersiapkan dari sisi ketersediaan bibit. Balai Penerapan Modernisasi Pertanian Jambi atau BRMP Jambi pada 29 Juni 2026 melaporkan telah melakukan pengawasan terhadap kesiapan benih kopi arabika varietas Gayo 3 di salah satu penangkar bibit di Desa Sanggaran Agung, Kecamatan Danau Kerinci.

Saat monitoring dilakukan, tersedia sekitar 1,6 juta batang benih arabika berumur enam bulan setelah semai. Sebanyak 1,4 juta batang di antaranya telah dikontrak untuk program pengembangan kawasan kopi seluas 1.400 hektare di tiga daerah.

Dari total kawasan tersebut, Kabupaten Kerinci memperoleh porsi terbesar, yakni 650 hektare. Sisanya dialokasikan untuk Kabupaten Merangin seluas 350 hektare dan Kota Sungai Penuh 400 hektare.

Ketersediaan benih dalam jumlah besar menjadi penting karena perluasan lahan tidak cukup hanya ditentukan oleh luas areal. Keseragaman dan mutu benih akan ikut menentukan produktivitas tanaman beberapa tahun setelah program dimulai.

Di sinilah program 650 hektare menghadapi tantangan berikutnya. Kopi merupakan tanaman tahunan sehingga dampak ekonomi perluasan kebun tidak dapat dirasakan seketika. Pemeliharaan tanaman selama masa belum menghasilkan, pendampingan petani, serta konsistensi penerapan budidaya menjadi bagian yang menentukan keberhasilan investasi tersebut.

sumber : Antara

Read Entire Article
Food |