Sebuah gambar yang diambil dengan drone menunjukkan kapal tanker kimia dan minyak Flyoz yang terdaftar di Malta sedang mengirim ke unit penyimpanan gas dan bahan bakar di Terminal Navigator di Grays, Inggris, pada 14 April 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) menyebut konsumsi minyak global mulai mengalami perlambatan di tengah krisis geopolitik yang masih berlangsung di Timur Tengah. Kondisi itu terjadi seiring tingginya harga energi dan terganggunya jalur distribusi minyak dunia.
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan permintaan minyak global mulai menunjukkan tren penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Menurut dia, tekanan terhadap konsumsi berpotensi semakin besar apabila harga minyak terus meningkat.
“Kami melihat permintaan minyak global sudah mulai menurun. Jika harga melonjak lebih tinggi lagi, penurunan ini akan semakin terlihat jelas,” kata Birol dalam acara yang digelar Chatham House, Kamis (21/5/2026).
IEA memperingatkan situasi pasar energi global dapat semakin tertekan apabila Selat Hormuz belum kembali dibuka dalam beberapa pekan ke depan. Jalur tersebut menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dan gas alam cair (LNG) dari kawasan Teluk Persia ke pasar global.
Menurut Birol, risiko pasar energi akan meningkat memasuki musim panas ketika permintaan bahan bakar biasanya naik seiring musim liburan di sejumlah negara.
“Biasanya, permintaan dan konsumsi minyak akan melonjak. Akibatnya, stok minyak menipis, sementara tidak ada pasokan minyak baru yang keluar dari Timur Tengah,” ujar Birol.
Ia menyebut pasar global saat ini kehilangan sekitar 14 juta barel pasokan minyak per hari akibat gangguan distribusi dan produksi di kawasan Timur Tengah. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan gangguan pasokan saat krisis minyak pada 1970-an yang mencapai sekitar 10 juta barel per hari.
Selain minyak, pasokan gas dunia juga disebut mengalami tekanan dengan hilangnya lebih dari 130 miliar meter kubik gas dari pasar global.
Meski pasar sempat terbantu oleh cadangan minyak yang tinggi dan pelepasan stok darurat oleh negara-negara anggota IEA, bantalan pasokan tersebut dinilai mulai menipis. Beberapa negara juga mulai melakukan penghematan konsumsi energi untuk menjaga stabilitas pasokan domestik.
“Satu-satunya solusi paling penting untuk masalah ini adalah pembukaan Selat Hormuz secara penuh dan tanpa syarat,” kata Birol.
Krisis energi global kembali meningkat setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu gangguan distribusi energi dari kawasan Teluk Persia. Situasi tersebut berdampak pada kenaikan harga minyak, LNG, hingga biaya logistik dan industri di berbagai negara.
sumber : Antara/Sputnik

15 hours ago
11














































