REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyebut sebanyak 40 persen pelaku usaha memilih tidak melakukan ekspansi sepanjang 2025. Sikap ini dipicu ketidakpastian politik dan ekonomi yang membuat dunia usaha cenderung menahan langkah.
Anggota Bidang Kebijakan Publik Apindo Ajib Hamdani mengatakan, banyak pengusaha mengambil posisi wait and see di tengah pergeseran epicentrum politik dan ekonomi.
“2025 itu memang sedang ada perpindahan episentrum dalam konteks politik maupun ekonomi sehingga kecenderungannya teman-teman pengusaha wait and see,” ujar Ajib dalam acara Bloomberg Economic Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Berdasarkan survei Apindo, sekitar 40 persen pengusaha tidak melakukan ekspansi bisnis pada 2025. Namun, Ajib memproyeksikan tingkat kepercayaan (confidence level) dunia usaha akan lebih baik pada 2026.
“Kita memang akan update di 2026, kita punya confidence level bahwa proyeksinya kita akan lebih banyak bertumbuh,” kata Ajib.
Ia menilai, potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terbuka lebar dengan populasi sekitar 280 juta jiwa dan produk domestik bruto (PDB) sebesar 1,3 triliun dolar AS. Rasio loan to deposit ratio (LDR) perbankan juga berada di level 87 persen atau masih di bawah 90 persen.
“Artinya, sebenarnya uang itu ada di bank. Bahkan ketika pemerintah menambah likuiditas Rp200 triliun,” ujarnya.
Menurut Ajib, persoalan utama justru berada pada sisi permintaan yang belum sepenuhnya pulih pascapandemi Covid-19. Karena itu, Apindo mendorong pemerintah memperkuat sektor riil melalui kebijakan fiskal dan moneter yang selaras.
Ajib menyebut isu ini juga menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto saat memanggil Apindo ke Hambalang beberapa waktu lalu. Peningkatan sektor riil dinilai akan berkorelasi langsung dengan penciptaan lapangan kerja.
“Sepanjang diberikan insentif yang tepat sasaran, kami konsisten mendorong penciptaan lapangan kerja yang maksimal,” ujar Ajib.
Ia menambahkan, kondusivitas iklim investasi menjadi faktor kunci dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Kepastian hukum dan transparansi dinilai menjadi pekerjaan rumah besar untuk menarik investasi. “Pertanyaannya bagaimana kepastian hukumnya, bagaimana transparansinya. Itu yang menjadi PR besar,” kata Ajib.

8 hours ago
6

































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5327442/original/074400200_1756181216-saus_dimsum.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5275054/original/013394900_1751863195-powell-rasull-7YFfGE26kbs-unsplash.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2390932/original/069939400_1540314668-Ayam_Geprek_Sambal_Matah.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5383431/original/077511200_1760675713-WhatsApp_Image_2025-10-16_at_23.24.27_d79ac8d6.jpg)
