Krisis Energi Picu Lonjakan Minat pada Kendaraan Listrik di Asia-Pasifik

6 hours ago 4

Pengunjung mencoba mobil listrik di salah satu stan pada ajang Periklindo Electric Vehicle Show (PEVS) 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Selasa (29/4/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Lonjakan harga bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah mulai mengubah arah industri otomotif di kawasan Asia-Pasifik. Konsumen hingga pelaku usaha kini semakin serius mempertimbangkan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) sebagai solusi di tengah tekanan biaya energi yang terus meningkat.

Gangguan pasokan dipicu serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran, yang berdampak langsung pada jalur distribusi global melalui Selat Hormuz. Jalur ini biasanya mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia.

Menurut International Energy Agency, kondisi ini menjadi salah satu gangguan pasokan paling signifikan dalam sejarah. Dengan lebih dari 80 persen minyak yang melintasi selat tersebut menuju Asia, kawasan ini menjadi yang paling terpukul.

Dampaknya langsung terasa di berbagai negara. Di Australia, lonjakan minat terhadap EV terjadi secara drastis. Data dari National Australia Bank mencatat pinjaman kendaraan listrik melonjak hingga 100 persen pada Maret, sementara permintaan dari sektor bisnis naik 88 persen.

“Kami melihat lebih banyak UKM dan operator besar mengeksplorasi EV untuk mengelola biaya operasional,” ujar eksekutif NAB, menekankan bahwa volatilitas harga bahan bakar menjadi pendorong utama perubahan ini.

Percepatan adopsi dan momentum produsen EV

Kenaikan harga BBM juga mulai menggeser preferensi di negara-negara yang sebelumnya lambat mengadopsi kendaraan listrik, seperti Jepang. Keterbatasan infrastruktur pengecasan dan dominasi kendaraan bensin perlahan mulai tergeser oleh tekanan biaya.

Analis dari Itochu Research Institute menilai Jepang kini berada di titik krusial. “Peralihan ke EV akhirnya mulai bergerak cepat,” ujarnya, seraya memperingatkan bahwa kondisi energi bisa “memburuk dalam waktu dekat.”

Saat ini, kendaraan listrik murni masih di bawah 2 persen dari total penjualan di Jepang. Namun, dorongan kebijakan mulai terlihat. Produsen seperti Toyota Motor Corporation dan Nissan Motor Corporation diperkirakan akan memperluas lini EV, seiring peningkatan subsidi pemerintah.

Read Entire Article
Food |