Krisis Iklim Ancam Perbaikan Kualitas Udara Dunia

6 hours ago 9

Siswa kelas 3 SDN 197 Desa Rawasari bermain di luar kelas dengan memakai masker saat istirahat belajar mengajar di Tanjung Jabung Timur, Jambi, Rabu (26/8/2026). Pihak sekolah mewajibkan para siswanya memakai masker yang dibagikan secara gratis guna mengurangi dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi sejak Selasa (25/8) di desa itu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para pakar di PBB mengatakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta gelombang panas yang dipicu krisis iklim mengancam perbaikan kualitas udara di berbagai belahan dunia. Dalam laporan terbarunya, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengatakan sejumlah wilayah yang sebelumnya berhasil memperbaiki kualitas udara melalui pengurangan emisi dari industri dan kendaraan berbahan bakar fosil kini menghadapi ancaman baru.

Ancaman itu berasal dari asap karhutla dan peningkatan konsentrasi ozon permukaan yang dipicu gelombang panas ekstrem. Kondisi tersebut menunjukkan adanya lingkaran setan antara perubahan iklim dan polusi udara.

Pemanasan global meningkatkan risiko cuaca ekstrem, termasuk gelombang panas dan karhutla. Keduanya kemudian menghasilkan polutan yang dapat memperburuk kualitas udara dan pada saat yang sama turut memengaruhi iklim.

"Kualitas udara dan iklim tidak bisa diperlakukan sebagai subjek terpisah; keduanya sangat saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain," kata ilmuwan WMO Lorenzo Labrador, seperti dikutip The Guardian, Selasa (8/9/2026).

Dalam laporan tahunan mengenai kualitas udara dan iklim, WMO mengungkapkan karhutla juga menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan manusia. Laporan yang diterbitkan bertepatan dengan Hari Udara Bersih Internasional itu menyebut karhutla ekstrem yang diperparah perubahan iklim dapat meningkatkan paparan polutan berbahaya.

Selain membawa partikel berukuran sangat kecil, asap karhutla dapat memicu tekanan oksidatif pada tubuh manusia. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap berbagai gangguan kesehatan. "Hasil tinjauan sistematik dan penelitian eksperimental konsisten menunjukkan keterkaitan antara paparan asap karhutla dengan meningkatnya serangan asma, perawatan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), lonjakan konsumsi obat pernapasan, dan berdampak pada kesehatan mental dan kelahiran," kata WMO dalam laporan tersebut.

WMO mencatat aktivitas karhutla di seluruh dunia meningkat sekitar tiga kali lipat sejak 1990. Karhutla juga dikaitkan dengan sekitar 100 ribu kematian per tahun pada periode 2010-2018.

Selain asap karhutla, WMO menyoroti peningkatan polusi ozon permukaan. Ozon jenis ini terbentuk ketika emisi dari industri dan kendaraan bermotor bereaksi dengan sinar matahari. Konsentrasinya dapat meningkat selama periode gelombang panas berkepanjangan.

"Ozon adalah oksidan yang sangat kuat, jadi begitu sampai di paru-paru, pada dasarnya ozon mengoksidasi jaringan paru-paru dan menyebabkan peradangan serta masalah peredaran darah, dan akhirnya masalah jantung," kata Labrador.

Read Entire Article
Food |