Memahami Pola Asuh, Kapan Harus Menjadi ‘Bos’ dan Kapan Jadi Teman Bagi Anak

6 hours ago 8

Ilustrasi ibu memeluk anak laki-lakinya (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dunia media sosial riuh oleh perdebatan mengenai pola asuh anak atau parenting yang diterapkan oleh kreator konten Denise Chariesta. Di tengah berbagai komentar warganet yang pro dan kontra, esensi dari pertumbuhan seorang anak dinilai sering kali luput dari perhatian.

Guru Besar Ilmu Psikologi dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof Dr Rose Mini Agoes Salim, M.Psi mengatakan setiap anak pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu yang besar. Mereka adalah penjelajah ulung di lingkungannya sendiri. Namun, kebebasan mengeksplorasi ini harus dibarengi dengan stimulasi yang tepat karena anak-anak sedang berada dalam masa keemasan yang sangat krusial.

"Namun memang di usia anak sejak usia dini itu ada namanya golden age di mana pengalaman itu sangat perlu. Di mana pengalaman tersebut akan diserap untuk kemudian menjadi informasi yang ada dalam dirinya untuk memperkaya dan juga untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan anak," ujar Prof Romy saat dihubungi Republika pada pekan lalu.

Menurut dia, tidak semua pengalaman boleh diberikan secara bebas. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk memfilter apa yang masuk ke dalam memori anak. Pengalaman yang diberikan haruslah yang bersifat positif dan mampu meningkatkan potensi diri, bukan justru pengalaman yang memperkenalkan atau membiarkan perilaku buruk berkembang tanpa kendali. Hal ini menjadi titik krusial yang sering diperdebatkan warganet ketika melihat konten-konten pengasuhan yang dianggap kurang edukatif atau terlalu provokatif.

Salah satu hal yang sering memicu kontroversi adalah cara orang tua merespons perilaku anak yang ekspresif, seperti berteriak atau menangis keras. Menurut Prof Romy, orang tua tidak boleh langsung menghakimi atau membiarkan perilaku tersebut tanpa pemahaman. Ada pesan tersirat di balik setiap teriakan seorang anak.

"Kalau anak teriak-teriak kita mesti tanya dulu kenapa dia teriak, jangan-jangan ada yang ingin dia sampaikan. Kalau itu tidak juga ada apa dengan dirinya, apa sakit atau apa. Jadi anak itu harus belajar mengekspresikan dirinya dengan tepat juga," ujarnya.

Read Entire Article
Food |