REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH -- Tidak terbersit dalam pikiran Nur Risiyati (54 tahun), seorang guru SMPN 2 Gedongwuni, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, untuk berhaji pada tahun ini. Dorongan utamanya berasal dari sang ibu yang memberinya nasihat beberapa saat sebelum yang bersangkutan meninggal dunia.
"Haji itu sekarang lama, mbok kamu mendaftar dulu. Nanti kalau sudah mendaftar, kamu bisa menunggu beberapa tahun," begitu pesan sang ibu seperti diutarakan Nur Risiyati di Hotel Yacoub Baik Algodandi 2 yang terletak di kawasan Syisyah, Makkah, Arab Saudi, Senin (1/7/2026).
Sang ibu pun membandingkan mendaftar haji dengan membeli mobil. Menurut sang ibu, mobil akan selalu tersedia di dealer. Akan tetapi, kuota haji belum tentu tersedia setiap tahun dan rata-rata orang harus menunggu lama untuk mendapatkan giliran berhaji.
"Akhirnya saya sama suami tergerak hati untuk mendaftar haji. Waktu itu saya mendaftar pada Desember 2012," tutur Risiyati yang merupakan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia tersebut.
Ia menuturkan, saat itu keduanya menabung dan mendapatkan porsi haji dengan perkiraan berangkat pada 2024. Berhubung adanya pelebaran Masjidil Haram dan pandemi Covid-19, keberangkatannya harus tertunda.
"Saya saat itu sempat bingung karena usia saya semakin ke sini semakin tua," ujar Risiyati.
Secercah harapan baru muncul ketika pada akhir 2025 namanya masuk dalam daftar jamaah haji yang akan berangkat pada 2026. Akan tetapi, ia sempat bingung karena tak kunjung mendapatkan panggilan resmi.
"Perasaan saya senang sekali karena hampir setiap hari, setiap bulan, saya melihat porsi haji dan ada nama saya akan berangkat pada 2026, tetapi panggilan tak kunjung datang. Setelah betul-betul resmi ada nama saya, saya senang sekali. Perasaan saya benar-benar tidak dapat dilukiskan. Ternyata saya memang mendapat panggilan," kata Nur Risiyati.
Setelah itu, ia pun bertekad melunasi Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih), yakni jumlah uang yang dibayar calon jamaah haji sebesar Rp 54.193.806. Setelah biaya pendaftaran sebesar Rp 25 juta disetorkan pada 2012, dirinya tinggal melunasi sekitar Rp 29 juta.
Ia pun menyadari biaya tersebut bukan merupakan biaya total penyelenggaraan haji mengingat Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) mencapai Rp 87.409.366.
"Alhamdulillah dapat subsidi dari pemerintah melalui BPKH (Badan Pengelola Keuangan Haji)," kata Risiyati.
Sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), ia bersyukur dirinya dan sang suami dapat melunasi biaya tersebut. Hal itu berkat kebiasaan menabung yang telah dilakukannya sejak mendaftar haji 14 tahun lalu.
"Alhamdulillah bisa melunasi memakai uang tabungan. Karena kami PNS, uang sedikit demi sedikit kami sisihkan dalam tabungan," katanya.
"Alhamdulillah berkat Badan Pengelola Keuangan Haji ini ada subsidi dari pemerintah. Kalau kita pikir, dengan uang Rp 54 juta mungkin fasilitas tidak akan memadai seperti ini. Seperti hotel yang bagus, makan setiap hari dengan lauk bergizi, kemudian ada koper dan sebagainya. Pokoknya kami tidak pernah kekurangan," kata Risiyati.
Ia pun berpesan kepada calon jamaah haji agar tidak berpikir harus membayar sekaligus biaya haji. Ia menyarankan untuk menabung sedikit demi sedikit.
"Dengan menabung, Insya Allah beban bisa ringan. Tinggal memikirkan membeli oleh-oleh saja," katanya.
Risiyati juga mengimbau agar calon jamaah haji menabung biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan selama berada di Tanah Suci.
"Menabung kita lebihkan untuk sangu, membeli oleh-oleh, kemudian sangu di rumah seperti tasyakuran, walimatul safar, dan lain-lain. Sehingga kalau menabung perlu diperhitungkan hal-hal lainnya juga," tuturnya.

5 hours ago
5












































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509321/original/086615600_1771679962-SnapInsta.to_630114161_18162147202417018_2870114530835891224_n__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5499312/original/081206000_1770782561-Depositphotos_132132754_XL.jpg)

