Menembus Pegunungan Yahukimo: Kisah Mama Yonce, Petani Perempuan Papua

1 hour ago 4

Image

Info Terkini | 2026-09-16 02:04:15

YOGYAKARTA — Nama Distrik Tangma di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, kini menggema di panggung perkopian nasional. Adalah Yonce Elo Yelemaken — atau yang akrab disapa Mama Yonce — sosok perempuan berusia 40 tahun yang berhasil menyabet gelar Juara 2 Kompetisi Green Beans pada ajang Jogja Coffee Week 6 2026.

Kisah Mama Yonce — sosok perempuan berusia 40 tahun yang berhasil menyabet gelar Juara 2 Kompetisi Green Beans pada ajang Jogja Coffee Week 6 2026.

Prestasi ini menjadi catatan sejarah tersendiri. Di tengah gempuran kopi-kopi komersial dan fasilitas modern dari berbagai daerah pengahasil kopi di Indonesia, Mama Yonce membuktikan bahwa kopi Arabika varietas Typica olahan tangan dinginnya mampu memikat para juri cupper profesional.

Melanjutkan Amanah dan Warisan Ayah

Perjalanan Mama Yonce di dunia kopi bukanlah cerita instan. Kebun kopi seluas 4 hingga 5 hektar yang dikelolanya di Tangma merupakan warisan almarhum sang ayah yang telah merintis penanaman kopi sejak dekade 1990-an. Dari hasil jualan kopi sang ayah pulalah, Mama Yonce dan tiga saudaranya mampu mengenyam pendidikan.

"Sejak SMA saya sudah sering ikut almarhum Bapak mengurus kopi. Bagi saya, bertahan di kebun ini adalah bentuk menjaga amanah almarhum," ujar Mama Yonce.

Dari empat bersaudara, kini hanya Mama Yonce dan sang ibu yang konsisten turun ke kebun merawat tanaman kopi secara langsung, sementara saudara-saudaranya yang lain bekerja sebagai pegawai kantoran.

Bertani Manual di Tengah Keterbatasan Alat

Pencapaian Mama Yonce terasa kian luar biasa jika melihat proses produksi di balik layar. Seluruh tahapan budidaya dan pemrosesan biji kopi di Distrik Tangma masih dilakukan secara manual dan bergantung pada tenaga fisik alami.

Mama Yonce menerapkan sistem budidaya organik tanpa bahan kimia sintetis. Pohon-pohon kopi Arabika Typica di kebunnya dirawat dengan pemangkasan rutin dan dipetik pilih hanya saat buah sudah ceri merah (red cherry).

Kendala terbesar yang dialaminya berada pada proses pascapanen. Tanpa adanya sarana pengeringan modern (dome dryer atau mesin), proses penjemuran biji kopi sepenuhnya mengandalkan paparan sinar matahari langsung. Jika musim hujan tiba, tantangan mempertahankan kualitas dan kadar air biji kopi menjadi ujian yang amat berat.

"Menjadi petani kopi perempuan sekaligus prosesor dengan keterbatasan alat itu tidak mudah. Banyak pekerjaan harus dilakukan dengan tangan dan tenaga sendiri, sering kali melelahkan," tutur Mama Yonce. "Tetapi dari keterbatasan itu saya belajar untuk sabar, kuat, dan tidak mudah menyerah."

Menyuarakan Kesejahteraan Hulu dan Peran Perempuan

Meski telah berhasil memasok biji kopinya secara langsung (direct trade) ke berbagai kedai kopi dan roastery, Mama Yonce mengungkapkan bahwa harga jual di tingkat petani sering kali belum sebanding dengan tingginya biaya perawatan dan tenaga yang dikeluarkan.

Apalagi selama ini, perjuangan petani di Tangma berjalan secara mandiri tanpa adanya sentuhan pendampingan maupun sarana bantuan dari pemerintah daerah maupun provinsi.

Melalui kemenangannya di Jogja Coffee Week 6, Mama Yonce berharap ada perhatian dan langkah nyata dari pemerintah untuk sektor hulu perkopian Papua Pegunungan.

"Harapan saya untuk pemerintah daerah dan provinsi, semoga kami petani kopi tidak hanya diberi semangat, tetapi juga diberi kesempatan dan dukungan nyata — terutama akses pasar, alat pengolahan kopi pascapanen, dan pelatihan teknis," tegasnya.

Ia juga berpesan agar generasi muda Papua tidak ragu untuk melihat profesi petani kopi sebagai peluang bisnis yang mandiri dan menjanjikan, bukan sebatas pelengkap industri di sektor hilir.

"Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Ini jadi kekuatan untuk membuktikan bahwa perempuan Papua juga mampu menjadi petani dan prosesor kopi yang hebat," pungkas Mama Yonce.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Food |