Aulia Zamzami
Eduaksi | 2026-07-02 20:08:00
"Pendidikan itu gratis"
Kalimat terserbut sering terdengar dalam berbagai pidato, kampanye pemerintah, maupun percakapan sehari-hari. Program wajib belajar dan berbagai bantuan pendidikan menjadi bukti bahwa negara berupaya membuka akses sekolah seluas-luas nya bagi seluruh anak Indonesia. Sekilas semuanya tampak menjanjikan. Setiap anak seolah memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan meraih masa depan yang lebih baik.
Namun, benarkah pendidikan sudah benar-benar gratis bagi semua orang?
Pertanyaan ini penting untuk di ajukan karena kenyataan di lapangan sering kali menunjukan hal yang berbeda. Masih banyak warga yang harus berjuang memenuhi berbagai kebutuhuan pendidikan anak-anak mereka. Seragam, buku, alat tulis, biaya transportasi, hingga akses internet menjadi pengeluaran tambahan yang tidak sedikit. Bagi sebagian masyarakat, biaya tersebut mungkin masih dapat dijangkau. Akan tetapi, bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, kebutuhan tersebut justru menjadi beban yang berat.
Di sinilah ironi itu muncul. Pendidikan disebut gratis tetapi mimpi untuk mengakses nya secara utuh tetap memerlukan biaya.
Program wajib belajar memang merupakan salah satu kebijakan penting dalam sejarah pendidikan Indonesia. Kebijakan ini telah meningkatkan angka partisipasi sekolah dan membuka peluang bagi jutaan anak untuk mengenyam pendidikan formal.
Semakin banyak anak yang dapat menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah dibandingkan beberapa dekade sebelumnya. Pencapaian tersebut tentu patut diapresiasi sebagai langkah besar menuju masyarakat yang lebih berpendidikan.
Namun, keberhasilan meningkatkan akses tidak selalu berarti keberhasilan menghadirkan keadilan.
Ketimpangan pendidikan masih menjadi persoalan yang nyata. Perbedaan fasilitas antara sekolah diperkotaan dan daerah terpencil masih terlihat jelas. Di kota-kota besar, siswa dapat menikmati ruang kelas yang nyaman, laboratorium yang lengkap, perpustakaan yang memadai, serta akses internet yang mendukung proses pembelajaran. Sementara itu, di sejumlah wilayah pelosok masih terdapat sekolah dengan keterbatasan sarana, kekurangan tenaga pendidik, bahkan akses jalan yang sulit dilalui.
Akibatnya, pengalaman belajar yang diperoleh setiap anak menjadi berbeda. Mereka sama-sama mengikuti program wajib berlajar, tetapi kualitas pendidikan yang diterima belum tentu setara.
Persoalan ini menunjukan bahwa pendidikan bukan sekedar tentang keberadaan sekolah atau tingginya angka partisipasi belajar. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Selain fasilitas, kondisi ekonomi keluarga juga mempengaruhi perjalanan pendidikan seorang anak. Banyak orang tua masih harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan sekolah di tengah biaya hidup yang terus meningkat. Tidak sedikit anak yang membantu orang tua bekerja sepulang sekolah atau mengurangi waktu belajar demi membantu perekonomian keluarga.
Bahkan, dalam beberapa kasus, pendidikan harus dikorbankan karena kebutuhan hidup sehari-hari dianggap lebih mendesak. Ketika pilihan harus dibuat antara membeli perlengkapan sekolah atau memenuhi kebutuhan rumah tangga, tidak semua keluarga memiliki keleluasan untuk memilih pendidikan sebagai prioritas utama.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan gratis belum sepenuhnya menghapus hambatan ekonomi yang dihadapi masyarakat.
Tantangan lain juga muncul seiring berkembangnya teknologi digital. Dunia pendidikan saat ini semakin bergantung pada internet dan perangkat elektronik sebagai sarana belajar. Pengalaman pembelajaran daring pada masa pandemi memberikan gambaran yang jelas mengenai kesenjangan tersebut. Sebagian siswa dapat mengikuti pelajaran dengan laptop dan jaringan yang stabil sementara sebagian lainnya harus berbagi telepon genggam dengan anggota keluarga atau mencari tempat tertentu demi mendapatkan sinyal.
Perbedaan akses teknologi ini pada akhirnya menciptakan kesenjangan baru dalam pendidikan. Anak-anak yang memiliki fasilitas digital yang memadai akan lebih mudah memperoleh informasi dan mengembangkan kemampuan mereka. Sebaliknya, mereka yang mengalami keterbatasan akses harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan kesempatan belajar yang sama.
Tidak hanya itu, lingkungan keluarga juga memiliki peran penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan seorang anak. Anak yang tumbuh dalam keluarga dengan budaya membaca dan dukungan pendidikan yang kuat biasanya memiliki motivasi belajar yang lebih baik. Sebaliknya, anak anak dari keluarga yang menghadapi berbagai keterbatasan sering kali harus berjuang sendiri untuk mempertahankan semangat belajar mereka.
Perbedaan tersebut bukan berarti ada anak yang lebih mampu atau kurang mampu. Yang berbeda adalah titik awal dan kesempatan yang mereka miliki sejak awal kehidupan.
Oleh karena itu, pembahasan mengenai pendidikan seharusnya tidak berhenti pada angka statistik atau keberhasilan meningkatkan jumlah siswa yang bersekolah. Pendidikan yang berkualitas menuntut adanya pemerataan kesempatan dan dukungan yang memadai bagi seluruh peserta didik, tanpa memandang tempat tinggal maupun latar belakang ekonomi keluarganya.
Program wajib belajar sejatinya merupakan langkah awal yang sangat penting, tetapi bukan tujujuan akhir. Tugas berikutnya adalah memastikan bahwa setiap sekolah memiliki fasilitas yang layak, setiap guru memperoleh dukungan yang memadai dan setiap anak mendapatkan kesempatan belajar yang setara.
ilustrasi pendidikan gratis, mimpi tetap bayar (sumber:https://perpustakaan.jakarta.go.id/book/detail?cn=INLIS000000000787047)
Pemerataan infrastruktur pendidikan perlu terus diperkuat, terutama di daerah-daerah yang masih tertinggal. Akses internet, ketersediaan tenaga pendidik, serta sarana pembelajaran yang memadai harus menjadi perhatian bersama. Tanpa upaya tersebut, kesenjangan pendidikan akan terus berlangsung dan mempengaruhi masa depan berikutnya.
Disisi lain, bantuan ekonomi bagi keluarga kurang mampu juga perlu ditingkatkan agar tidak ada anak yang terpaksa mengubur cita cita nya karena persoalan biaya. Pendidikan seharusnya jadi jalan keluar dari kemiskinan, bukan menjadi beban tambahan yang semakin mempersempit pilihan hidup masyarakat.
Pada akhirnya, makna pendidikan gratis tidak boleh hanya dipahami sebagai bebas biaya sekolah semata. Pendidikan yang benar-benar adil adalah pendidikan yang memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anak untuk belajar, berkembang, dan meraih impian mereka.
Selama masih ada anak yang harus berjalan jauh menuju sekolah, selama masih ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan pendidikan dasar, dan selama kualitas pendidikan masioh berbeda secara mencolok antara satu daerah dengan daerah lainnya, maka pekerjaan besar itu belum selesai.
Sebab, pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya tentang membuka pintu sekolah bagi semua orang, melainkan memastikan bahwa setiap anak yang melangkah masuk kedalam nya memiliki peluang yang setara untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

6 hours ago
6



























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522741/original/006886600_1772775055-8591.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5524652/original/016596800_1772963486-Foto_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5532552/original/024344100_1773655185-pexels-undo-kim-2153633398-34628051.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5527962/original/042466100_1773221151-pexels-pixabay-248509.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5528779/original/012654500_1773295183-2148501558.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529965/original/052248300_1773387981-Screenshot_2026-03-13_143501.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5543643/original/041077600_1775031375-WhatsApp_Image_2026-04-01_at_14.33.02__1_.jpeg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5508736/original/048938100_1771591581-pexels-tijana-drndarski-449691-4294730.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510348/original/020953300_1771826496-pexels-leongsan-33964763.jpg)