
Oleh: Laporan Jurnalis Republika Fernan Rahadi dari Madinah, Arab Saudi.
"In essence, Hajj is man's evolution toward Allah... Hajj is the antithesis of aimlessness. It is the rebellion against a damned fate guided by evil-forces"
(Ali Shariati, dalam bukunya 'Hajj - The Pilgrimage')
REPUBLIKA.CO.ID; Saat mendengarkan tausiyah ba'da Maghrib dari Ustaz Ariful Bahri, seorang pendakwah asal Indonesia dari Universitas Islam Madinah, di Masjid Nabawi, awal Mei 2026 lalu saya pertama kalinya merenung mengenai eksistensi dan peran saya pada penyelenggaraan haji 2026 ini.
Dalam ceramahnya Selasa (5/5/2026), Ustaz Ariful Bahri yang telah mengisi pengajian di Nabawi sejak 2019 tersebut menyampaikan pesan yang menggugah tentang menjadi haji mabrur.
“Haji mabrur itu berat, tidak ringan. Bukan diukur di sini (Tanah Suci), karena di sini semua orang mudah berbuat baik. Yang menjadi ukuran adalah ketika kita pulang ke kampung halaman," tuturnya dalam ceramah tersebut.
Saya pun merenung mendengar kata-kata tersebut. Begitu banyaknya orang Indonesia menabung sedikit demi sedikit serta rela antre puluhan tahun lamanya demi melaksanakan haji.
Buat apa mereka melakukan itu? Apakah sekadar untuk menggugurkan kewajiban untuk memenuhi rukun Islam ke-5? Apakah mereka melakukan itu hanya untuk mendapatkan titel 'haji'? Apakah hanya sebatas supaya mereka bisa dipanggil dengan awalan 'haji' di depan nama mereka?
Tentunya itu bukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat. Jawaban dari alasan melakukan ibadah haji seharusnya jauh lebih dalam dari sekadar 'kewajiban agama' alih-alih mendapatkan titel. Tanggung jawab setelah kepulangan haji tentunya lebih besar dari sekadar 'menjadi saleh' apalagi hanya karena ingin dipanggil dengan sapaan 'Pak Haji'.
Jawaban dari pertanyaan pokok di atas sebagian saya peroleh saat pelaksanaan puncak haji yakni Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Di tempat di mana rukun-rukun haji dan para wajib haji dilaksanakan oleh para jamaah tersebut saya merasakan sendiri bagaimana perjuangan melaksanakan haji.
Selama kurang lebih empat sampai lima hari pelaksanaan Armuzna, jamaah harus bertarung dengan cuaca Arab Saudi yang panas terik, serta berbagai kondisi lain yang jauh dari nyaman seperti tenda-tenda sederhana yang memiliki kapasitas terbatas, makanan dan minuman seadanya, antrean yang mengular di toilet, hingga situasi berjalan kaki jauh saat hendak melempar jumrah di Jamarat.

17 hours ago
12













































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509321/original/086615600_1771679962-SnapInsta.to_630114161_18162147202417018_2870114530835891224_n__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5499312/original/081206000_1770782561-Depositphotos_132132754_XL.jpg)

