MSCI Pertanyakan Transparansi IHSG, Bursa Malaysia Berpotensi Ketiban Untung

3 hours ago 2

Pengunjung mengamati layar digital yang menampilkan data pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (29/1/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR — Kekhawatiran Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait kelayakan investasi saham-saham Indonesia dinilai memperkuat peluang masuknya arus dana asing bersih ke bursa Malaysia pada 2026. Sejumlah pengamat pasar menilai potensi arus keluar dari pasar saham Indonesia dapat memberikan dampak limpahan positif bagi bursa Malaysia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia tercatat anjlok dalam dua hari berturut-turut. Hal itu terjadi setelah penyusun indeks MSCI Inc menyoroti persoalan fundamental terkait kelayakan investasi yang berkaitan dengan free float, yakni jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan. Kondisi tersebut mendorong MSCI menghentikan sementara sejumlah perubahan indeks, termasuk penambahan saham. Hal itu berlaku hingga regulator bursa saham di Indonesia mengatasi kekhawatiran tersebut.

Jika persoalan transparansi tersebut tidak segera ditangani, Indonesia berpotensi mengalami penurunan bobot dalam MSCI Emerging Markets Index atau bahkan diturunkan ke kategori pasar frontier. Kondisi ini berisiko memicu aksi jual oleh pengelola dana investasi yang mengikuti indeks tersebut.

Seiring dengan ekspektasi pertumbuhan ekonomi dan laba korporasi, pasar saham Malaysia diperkirakan berbalik mencatat arus masuk dana asing bersih pada 2026 setelah sebelumnya mengalami arus keluar. Hal ini diperkirakan oleh Chief Executive Officer Areca Capital Sdn Bhd Danny Wong kepada The Edge, Kamis (29/1/2026).

Malaysia mencatat arus keluar dana asing bersih sebesar 22,3 miliar ringgit sepanjang 2025. Kombinasi kinerja yang kurang optimal pada tahun lalu, proyeksi pertumbuhan laba, serta valuasi yang berada di bawah rata-rata historis mendorong analis memperkirakan masuknya dana asing pada tahun ini.

Investor asing tercatat menjadi pembeli bersih selama tiga pekan berturut-turut. Secara kumulatif, arus masuk dana asing bersih mencapai 1,47 miliar ringgit hingga 27 Januari 2026.

Sementara itu, Kepala Riset Malacca Securities Loui Low menyoroti penguatan nilai tukar ringgit sebagai sinyal meningkatnya minat investor asing untuk masuk ke pasar. “Karena itu, mereka kemungkinan sedang memosisikan diri untuk pertumbuhan lebih lanjut,” ujarnya.

Indeks acuan FBM KLCI juga memulai tahun ini dengan kinerja positif. Indeks tersebut telah menguat lebih dari empat persen dalam waktu kurang dari satu bulan, melampaui capaian sepanjang 2025 yang hanya naik 2,3 persen. Pada Rabu, FBM KLCI ditutup melemah 0,83 persen di level 1.756,49.

Read Entire Article
Food |