Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi enggan membiayai operasional Bandara Kertajati yang tidak menghasilkan benefit.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi mengeluhkan dana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar harus digunakan untuk membiayai operasional Bandara Internasional Kertajati di Kabupaten Majalengka. Padahal, bandara itu hanya melayani satu penerbangan saja.
Selain Kertajati, APBD Jabar juga tersedot untuk membayar utang pembangunan Masjid Raya Al Jabbar di Gedebage, Kota Bandung. Pembangunan masjid apung terbesar di Jabar itu terjadi pada era Gubernur M Ridwan Kamil alias Kang Emil. Pembiayaannya menggunakan dana PEN.
"Beban utang kita tinggi. Betul. Satu dana PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional), kedua membiayai Kertajati, kita ngebiayaain terus, hasilnya ga ada," kata Kang Dedi Mulyadi (KDM) dalam video di akun Tiktoknya dikutip Republika di Jakarta, Senin (5/1/2025). Adapun Bandara Kertajati yang menelan anggaran Rp 2,6 triliun diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 24 Mei 2018.
Dia heran, mengapa Pemprov Jabar harus keluar uang banyak hanya untuk membiayai bandara yang merugi. "Ya membiayai Pak, kita membiayai sesuatu yang tak menghasilkan apa pun, gitu lho. Padahal lembaga bisnis, itu lembaga penerbangan bisnis. Kertajati dan Al Jabbar itu kalau dibangunin Rp 100 miliar," kata KDM.
Pernyataan KDM itu pun diluruskan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jabar Dedi Mulyadi. Dedi yang memiliki nama sama dengan bosnya meluruskan utang yang harus ditanggung Pemprov Jabar. "(Masjid) Al Jabbar Rp 45 (miliar) per tahun. (Bandara) Kertajati Rp 100 (miliar)," ucap Dedi kepada KDM.
Dia pun bertanya kepada Dedi apakah pembiayaan Bandara Kertajati sebaiknya disetop. "Pertanyaan saya bisa nggak sih, karena kita ngebiayain terus gak ada hasilnya Kertajati setop dulu deh? Ya kita harus jujur Pak," ucap KDM.
Dedi pun membenarkan, dari Rp 100 miliar dana APBD Jabar, sekitar Rp 50 miliar digunakan untuk operasional dan layanan Bandara Kertajati. Padahal, hanya ada satu penerbangan komersial di sana.
"Artinya manajemennya dibiayai digaji, tapi menghasilkan apa pun tidak," ucap KDM heran. Dedi pun membenarkan, uang sabanyak itu hanya dikucurkan demi menjalankan bandara yang hanya melayani satu atau dua penerbangan per pekan.

23 hours ago
5







































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5344879/original/037827700_1757495713-Kota_Semarang.jpg)





