Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi (keempat kiri) berbincang dengan (dari kiri) Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen Dicky Kartikoyono, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM dan LJK lainnya Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Dian Ediana Rae, Wakil Ketua Dewan Komisioner Hernawan Bekti Sasongko, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Hasan Fawzi, Ketua Dewan Audit Sophia Issabella Watimena dan Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Jasa Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto Adi Budiarso usai pengucapan sumpah jabatan Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Rabu (25/3/2026). Pengucapan sumpah jabatan ini menandai kelanjutan proses pengisian jabatan strategis di lingkungan Dewan Komisioner OJK guna memperkuat kepemimpinan kelembagaan OJK dalam menjaga stabilitas sektor jasa keuangan, pelindungan konsumen, mendorong pendalaman pasar keuangan, serta mengawal transformasi sektor jasa keuangan nasional.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Eskalasi perang yang bergulir di kawasan Timur Tengah meningkatkan kondisi ketidakpastian ekonomi global. Kendati demikian, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sektor jasa keuangan domestik terjaga stabil.
“Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan dilangsungkan pada 1 April 2026, menilai bahwa stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga,” ungkap Ketua Dewan Komisioner OJK Friderika Widyasari Dewi dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulan April yang digelar secara daring, Senin (6/4/2026).
Friderika atau kerap disapa Kiki menerangkan, memang kinerja perekonomian global ke depan dihadapkan pada ketidakpastian yang meningkat, seiring dengan eskalasi tensi geopolitik di kawasan teluk telah meningkatkan risiko terhadap stabilitas global.
Kondisi tersebut mendorong lonjakan harga energi dan meningkatnya volatilitas pasar keuangan global. Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) dalam interim economic outlook di Maret 2026 memproyeksikan prospek perekonomian global berada pada jalur penguatan sebelum terjadinya perang, namun kini mengalami koreksi akibat eskalasi konflik di kawasan timur-tengah tersebut.
“Tingginya ketidakpastian global dan tekanan harga energi juga mempersempit ruang kebijakan moneter bagi bank sentral global sekaligus kembali memunculkan ekspektasi higher for longer,” ujar Kiki.
Ia melanjutkan, perekonomian AS menunjukkan kecenderungan tertekan di tengah inflasi yang persisten dan peningkatan tingkat pengangguran. Bank Sentral AS, The Fed, mempertahankan suku bunga kebijakan dengan sinyal hanya satu kali pemangkasan suku bunga sepanjang tahun 2026. Namun pasca eskalasi konflik Iran, ekspektasi pasar bergeser ke skenario tidak adanya pemangkasan suku bunga pada 2026.

15 hours ago
8






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)

















