OJK Targetkan Inklusi Keuangan Indonesia Capai 98 Persen pada 2045

9 hours ago 12

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI, – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan tingkat inklusi keuangan Indonesia dapat mencapai 98 persen pada tahun 2045. Target ambisius ini diselaraskan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045.

"Insya Allah, kami berharap dapat mencapai 98 persen inklusi keuangan di Indonesia pada tahun 2045," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, dalam acara Hari Indonesia Menabung di Bekasi, Jawa Barat, Jumat.

Menurut Friderica, tingkat literasi dan inklusi keuangan di kalangan pelajar dan mahasiswa masih tertinggal dari rata-rata nasional. Kesenjangan ini menjadikan pelajar sebagai target utama dalam upaya OJK meningkatkan literasi dan inklusi keuangan.

"Ini adalah tanggung jawab kita bersama, bersama para pemimpin daerah, untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan pelajar di seluruh Indonesia," tegasnya.

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan di kalangan pelajar berada di angka 62,72 persen. Angka ini berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai 69,57 persen.

Sementara itu, tingkat inklusi keuangan pelajar mencapai 92,76 persen, juga masih di bawah rata-rata nasional sebesar 93,61 persen. Friderica menyoroti urgensi peningkatan indikator ini di kalangan anak muda mengingat besarnya demografi kelompok usia tersebut.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menunjukkan terdapat sekitar 88 juta penduduk usia sekolah dan kuliah. Jumlah tersebut mencakup sekitar 31 persen dari total populasi Indonesia yang mencapai 287,2 juta jiwa.

Ia menekankan bahwa akses luas terhadap produk dan layanan keuangan harus dibarengi dengan kemampuan untuk memahami dan menggunakannya secara bijak. Tantangan literasi keuangan bagi generasi muda semakin besar seiring dengan kemudahan akses belanja daring dan layanan keuangan digital yang dapat mendorong perilaku belanja impulsif.

Oleh karena itu, Friderica mendorong para penyedia layanan keuangan untuk memperkuat upaya edukasi dan perlindungan konsumen. Hal ini termasuk memastikan bahwa calon pengguna memiliki penghasilan dan memahami sepenuhnya kewajiban yang terkait dengan penggunaan produk keuangan.

Lebih lanjut, ia mengajak generasi muda untuk membangun kebiasaan menabung sejak dini. Friderica menekankan bahwa mengajarkan disiplin keuangan sejak awal merupakan kunci untuk membantu mereka mengelola uang dengan bijak.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara

Read Entire Article
Food |