Penelitan Ungkap Tertawa Bantu Dukung Perkembangan Otak Anak

17 hours ago 13

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ungkapan lama yang menyebut tawa sebagai obat terbaik tampaknya bukan sekadar pepatah. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tertawa juga berperan penting dalam mendukung perkembangan otak anak, kesehatan emosional, dan kemampuan bersosialisasi.

Pakar perkembangan anak usia dini dari Middlesex University, Jacqueline Harding, menjelaskan bahwa tawa dan bermain merupakan fondasi penting bagi pertumbuhan otak yang sehat. Dalam bukunya yang berjudul The Brain That Loves to Laugh, Harding mengungkapkan bahwa kegembiraan merupakan fenomena biologis kompleks yang membantu anak menghadapi stres dan membangun ketahanan mental.

"Ketika kita melihat anak-anak tertawa, kita sedang menyaksikan kecemerlangan otak yang bekerja, belajar, terhubung, dan berkembang," kata Harding, dilansir dari Fox News, Senin (8/6/2026).

Menurut dia, harapan dan humor bukan hanya pelengkap kehidupan, melainkan bagian mendasar dari resep perkembangan anak yang sehat.

Harding menjelaskan, tawa mengaktifkan berbagai jaringan otak, termasuk area motorik dan korteks prefrontal, bahkan sebelum anak mampu berbicara. Saat otak berusaha memahami ide-ide yang saling bertentangan dalam humor, kemampuan kreativitas dan memori kerja ikut terlatih sehingga berfungsi layaknya "olahraga mental".

Tak hanya berdampak pada fungsi otak, tawa juga memengaruhi kondisi biologis tubuh. Tertawa diketahui dapat menurunkan kadar hormon stres seperti kortisol dan epinefrin. Sebaliknya, aktivitas ini meningkatkan produksi zat kimia yang berkaitan dengan perasaan bahagia, seperti dopamin, serotonin, dan endorfin.

Selain itu, tawa turut meningkatkan hormon oksitosin yang berperan mempererat ikatan emosional antara orang tua dan anak. Sebaliknya, stres berkepanjangan dapat mengganggu proses belajar, menekan fungsi sistem kekebalan tubuh, serta memengaruhi perkembangan sistem limbik, bagian otak yang mengatur emosi dan memori jangka panjang.

"Keadaan emosional anak-anak secara langsung memengaruhi bagaimana mereka menjalani kehidupan dan berinteraksi dengan dunia di sekitarnya," ujar Harding.

Ia mendorong para orang tua untuk menyediakan lebih banyak momen bermain spontan dan penuh kegembiraan bersama anak. Menurutnya, aktivitas tersebut merupakan penawar alami terhadap stres karena membantu meningkatkan pelepasan endorfin di otak.

Interaksi yang menyenangkan tidak hanya memicu tawa, tetapi juga membantu anak mengembangkan kemampuan mengelola emosi, memperkuat rasa aman, membangun kedekatan dengan orang lain, serta mendukung perkembangan sosial dan kognitif. Harding juga menilai humor perlu mendapat tempat di lingkungan pendidikan. Menurut dia, suasana belajar yang menyenangkan dapat mengurangi beban kognitif dan membantu anak menyerap informasi dengan lebih baik.

"Hubungan yang aman dan lingkungan bermain yang bebas stres akan mendukung proses belajar. Kurikulum tidak boleh diprioritaskan melebihi dua faktor mendasar tersebut," kata Harding.

Read Entire Article
Food |