PUI: Maulid Nabi Momentum Perbaiki Akhlak dan Peduli Terhadap Alam

2 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG-- Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum untuk memperbaiki akhlak dan peduli kepada alam. Tidak hanya itu, menjadi momentum refleksi perjuangan dan keteladanan Rasullullah SAW.

Dewan Penasehat Pengurus Pusat Persatuan Umat Islam Indonesia (PP PUI), Prof Achmad Tjachja Nugraha mengatakan peringatan maulid nabi seharusnya tidak hanya berhenti sebagai kegiatan seremonial. Akan tetapi, harus menjadi momentum untuk memperbaiki akhlak.

Ia mengatakan kehidupan Rasulullah SAW memberikan keteladanan tentang membangun masyarakat dengan kejujuran, amanah, persaudaraan, keadilan. Serta kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama serta tidak membuat kerusakan di muka bumi.

“Maulid Nabi harus kita maknai sebagai momentum untuk kembali kepada keteladanan Rasulullah. Bukan hanya mengingat kelahiran beliau saja, akan tetapi bagaimana akhlak, perjuangan dan kepemimpinan beliau kita hadirkan dalam kehidupan sehari-hari,” ucap Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Ia mengatakan pesan tersebut semakin relevan ketika dikaitkan dengan momentum kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan yang telah diperjuangkan  tidak cukup hanya diperingati melalui upacara dan kegiatan seremonial.

Kemerdekaan harus diisi dengan pembangunan terutama membangun  karakter atau akhlak yang dirasakan oleh umat dan alam. “Kalau kita ingin mengisi kemerdekaan dengan benar, salah satu modal terbesarnya adalah akhlak. Kemerdekaan tanpa akhlak dapat kehilangan arah. Kekuasaan tanpa amanah dapat melahirkan ketidakadilan. Ilmu tanpa akhlak juga dapat disalahgunakan," kata dia.

Ia menyebut Rasullulah merupakan suri tauladan kesempurnaan akhlak dalam mengisi kemerdekaan. Prof Achmad mengatakan sifat siddiq, amanah, tabligh dan fathanah perlu diterjemahkan dalam kehidupan modern.

Ia mengatakan Siddiq berarti menjunjung kejujuran dalam keseharian, amanah berarti dapat dipercaya dan bertanggung jawab, tabligh berarti menyampaikan kebenaran dan kebaikan. Sedangkan fathanah berarti memiliki kecerdasan sifat bijak.

“Empat sifat itu jangan hanya kita hafalkan harus menjadi karakter. Kejujuran harus menjadi budaya, amanah harus menjadi prinsip dalam menjalankan tugas, kecerdasan harus digunakan untuk kemaslahatan dan setiap kebaikan harus disampaikan kepada masyarakat,” kata dia.

Selain itu, Rasulluloh mengajarkan tentang menjaga keseimbangan alam yaitu agar kita tidak merusak alam. Perjuangan mengisi kemerdekaan saat ini harus dapat mengoptimalkan potensi alam dengan tidak merusak alam.

"Alam adalah untuk kita saat ini dan untuk anak cucu kita di masa depan," kata dia.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman Indonesia. Perbedaan suku, budaya, bahasa, pandangan. Serta latar belakang seharusnya menjadi kekuatan bangsa, bukan alasan untuk saling berdebat hingga  bermusuhan.

“Jangan karena perbedaan pilihan, kepentingan, keinginan atau pandangan menjadikan  persaudaraan kita rusak. Kita harus belajar dari Rasulullah bagaimana membangun kehidupan bersama dengan keadilan, persaudaraan dan kebijaksanaan,” katanya.

Selanjutnya, Maulid Nabi juga harus menjadi momentum evaluasi kondisi bagaimana penerapan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari khususnya generasi muda. Ia menambahkan, Indonesia membutuhkan manusia-manusia (generasi muda ke depan) yang merdeka pikirannya, kuat imannya, baik akhlaknya dan besar kepeduliannya kepada sesama juga alam lingkungan.

Read Entire Article
Food |