Penenun memintal benang menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) untuk membuat kain tenun goyor di Desa Pojok, Tawangsari, Sukoharjo, Jawa Tengah, Selasa (18/8/2026). Sentra kerajinan tersebut menghadapi kendala regenerasi penenun karena sebagian anak muda memilih merantau atau bekerja sebagai buruh pabrik. (FOTO : ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)
Penenun menyelesaikan pembuatan kain tenun goyor dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Menjadi penenun tidak lagi dianggap sebagai pekerjaan yang menjanjikan bagi pemuda Desa Pojok, Tawangsari. Upah penenun hanya Rp55.000 untuk setiap 4 meter kain yang dikerjakan selama satu hingga dua hari. (FOTO : ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)
REPUBLIKA.CO.ID, SUKOHARJO -- Di tengah deru mesin pabrik yang menawarkan pilihan pekerjaan bagi generasi muda, para penenun di Desa Pojok, Tawangsari, Sukoharjo, Jawa Tengah, masih tekun menjaga warisan tenun goyor. Dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), mereka menyelesaikan helai demi helai benang menjadi kain yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran.
Namun, keberlangsungan kerajinan tersebut menghadapi tantangan regenerasi. Sebagian anak muda memilih merantau atau bekerja sebagai buruh pabrik karena dinilai menawarkan penghasilan yang lebih menarik. Sementara itu, penenun menerima upah sekitar Rp55.000 untuk setiap empat meter kain yang dikerjakan selama satu hingga dua hari.
sumber : Antara Foto

12 hours ago
12

































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5536549/original/029350900_1774329970-pexels-elletakesphotos-5764077.jpg)










