Rupiah Melemah ke Rp 16.920, Dampak Penutupan Selat Hormuz

14 hours ago 5

Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Rabu (25/3/2026) pagi, bergerak melemah 22 poin atau 0,13 persen menjadi Rp 16.920 per dolar AS. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Rabu (25/3/2026) pagi, bergerak melemah 22 poin atau 0,13 persen menjadi Rp 16.920 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp 16.898 per dolar AS.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi Selat Hormuz yang masih ditutup. “Sentimen umum masih risk off, harga minyak masih tinggi, dan Selat Hormuz masih ditutup. Investor juga masih belum sepenuhnya yakin dan terus berhati-hati memantau perkembangannya,” ucapnya di Jakarta, Rabu.

Mengutip Sputnik, Iran telah mengambil langkah untuk memastikan kapal transit yang tidak berafiliasi dengan Amerika Serikat (AS) atau Zionis Israel dapat melintasi Selat Hormuz. Blokade Selat Hormuz dipicu oleh operasi AS dan Israel terhadap Iran.

Seperti diketahui, Selat Hormuz merupakan jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.

Blokade terhadap jalur itu telah mempengaruhi tingkat ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut.

“Harga WTI (West Texas Intermediate/minyak mentah yang diproduksi di Texas, AS) saat ini adalah 88 dolar AS per barel dan Brent 98 dolar AS per barel,” ujar dia.

Di sisi lain, ada harapan deeskalasi perang Iran menghadapi agresi AS-Israel seiring laporan bahwa AS telah memberikan Iran rencana yang dapat mengakhiri konflik tersebut.

Anadolu melaporkan Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya telah memerintahkan penundaan semua serangan terhadap infrastruktur pembangkit listrik dan energi selama lima hari ke depan. Hal tersebut, lanjut Trump, karena dialog dengan Teheran selama dua hari belakangan berlangsung "sangat baik dan produktif".

Namun, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf membantah pihaknya sedang berunding dengan Amerika Serikat dan menyebut kabar tersebut sebagai "berita palsu" untuk memanipulasi pasar minyak dan finansial.

Ghalibaf menambahkan bahwa rakyat Iran menuntut hukuman yang "penuh dan menimbulkan penyesalan" bagi para agresor, sementara semua pejabat berdiri teguh mendukung pemimpin negara dan masyarakat hingga tujuan perang tercapai.

sumber : Antara

Read Entire Article
Food |