Rupiah Melemah ke Rp 18.139 per Dolar AS: Apa Penyebabnya dan Bagaimana Dampaknya?

14 hours ago 16

Warga membeli uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Valuta Inti Prima, Jakarta, Jumat (5/6/2026). Pada perdagangan Jumat (5/6/2026), rupiah dibuka melemah 0,08 persen ke level Rp 18.064 per dolar AS. Pada sekitar pukul 12.55 WIB, mata uang Garuda terpantau bergerak fluktuatif di posisi Rp 18.035 per dolar AS. Namun pada penutupan perdagangan hari ini terjadi perubahan. Nilai tukar (kurs) rupiah menguat 13 poin atau 0,07 persen. Posisi rupiah naik menjadi Rp18.036 per dolar AS dibanding kurs pada penutupan sebelumnya Rp18.049 per dolar AS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh Rp 18.139 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (8/6). Pada saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 3,98 persen ke level 5.371,89 atau turun 222,88 poin dari penutupan perdagangan sebelumnya.

Ekonom Bright Institute Yanuar Rizky menilai tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari aksi jual investor asing di pasar saham dalam beberapa hari terakhir. Menurut dia, setelah menjual saham, investor asing akan menukarkan dana hasil penjualan ke dolar AS sebelum dibawa keluar dari Indonesia.

Net sell asing saham kan settlement T+2 hari ini, maka dana asing hasil jual saham langsung ditransfer keluar dalam bentuk dolar AS,” ujar Yanuar dalam pesan singkatnya kepada wartawan, Senin (8/6/2026).

Meningkatnya kebutuhan dolar AS tersebut, kata dia, ikut memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Karena itu, Bank Indonesia perlu menjaga stabilitas pasar agar pelemahan rupiah tidak berlangsung lebih tajam.

Yanuar menilai langkah intervensi yang dilakukan Bank Indonesia pada Jumat lalu membantu meredam tekanan terhadap rupiah. Menurut dia, tanpa langkah tersebut, nilai tukar rupiah berpotensi melemah lebih dalam pada awal perdagangan pekan ini.

“Itu kenapa BI dua kali intervensi Jumat, termasuk closing New York. Kalau open pagi ini tanpa marking the close New York di 18.200, pagi ini sudah 18.500,” kata Yanuar.

Menurut dia, perhatian pelaku pasar kini mulai bergeser dari pergerakan nilai tukar dan pasar saham ke kondisi dunia usaha. Investor semakin mencermati prospek pendapatan perusahaan dan arah kebijakan ekonomi ke depan.

“Isunya sudah bergeser ke iklim usaha. Bottom line pendapatan turun akibat China pause import dan ketidakpercayaan kebijakan usaha yang dikatakan hedge fund,” ujarnya. 

Read Entire Article
Food |